Sunday, June 2, 2013

Perjalanan ke Makassar (TN Bantimurung, Losari dan sekitarnya), Tana Toraja, dan Tanjung Bira (3)

Kamis jam 05.30 pagi, bus Bintang Prima dari Toraja yang kutumpangi tiba di pool bus Bintang Prima di Makassar. Pool bus ini berada di jalan urip sumoharjo, tepat di depan kantor gubernur sulawesi selatan.
Tujuanku adalah ke Pantai Losari. Sudah ada pete-pete yang lalu lalang. Dari urip sumoharjo ke pantai losari tidak terlalu jauh. sekitar 5-6 km. Bisa naik pete - pete yang lewat dari jalan tersebut, atau juga naik taksi. Tapi hati hati dalam menawar naik taksi. Karena kalau pake argo sebenarnya hanya sekitar 15 ribu saja.

Saya sampai di pantai Losari sekitar jam 6 pagi. Ada beberapa orang yang berolahraga. Beruntung saya bisa menikmati damainya pagi di pantai Losari. Saya duduk di bangku yang banyak di pantai losari sarapan dengan apa yang saya miliki sambil menikmati munculnya matahari, Cukup nikmat apalagi kondisi tidak ramai. Sayang ketika saya ke kamar mandi disitu, kondisinya tidak bisa dikatakan baik. Sekedarnya saja walaupun bayar. Sebenarnya saya berniat untuk mandi, jadinya hanya gosok gigi dan cuci muka saja.

Setelah puas menikmati pantai, saya menyusuri tepi pantai, atau jalan somba opu, untuk menuju benteng Fort Rotterdam. Jaraknya sekitar 1 km kalau jalan kaki. Bisa juga naik pete pete bayar ongkos seribu rupiah atau becak yang banyak mangkal di losari.
Di jalan somba opu banyak tempat makan atau jual cenderamata dan oleh oleh. Tapi niat saya untuk membeli, ditahan dulu, karena saya masih mau pergi ke Tanjung Bira.
Pantai Losari

Benteng Fort Rotterdam kondisinya bagus dan terawat. Jika naik ke salah satu sudutnya, memang terlihat Laut Makassar. Benteng ini memang strategis. Di dalam benteng ini banyak bangunan bangunan dengan arsitektur Belanda, dan di salah satu gedung terdapat juga museum. Sebenarnya masuk ke benteng ini gratis, namun ketika kita mencatatkan nama di buku pengunjung, petugas meminta uang seikhlasnya. Saya beri saja lima ribu rupiah.
Benteng Fort Rotterdam

Setelah puas melihat lihat dan beristirahat di Benteng Fort Rotterdam, saya berniat untuk ke Benteng Somba Opu. Saya penasaran karena menurut sejarah inilah benteng tertua yang ada di Makassar.
Saya bertanya kepada petugas di benteng Fort Rotterdam bagaimana cara untuk ke benteng somba opu.
Dari gerbang benteng fort rotterdam, berjalan sekitar 200 meter ke kanan menuju bundaran, dan kita menunggu pete pete yang keluar dari perempatan jalan sulawesi. Nanti pete pete ini berhenti di cendrawasih, bayar ongkos dua ribu rupiah. Dari cendrawasih ini ambil pete pete yang tujuannya ke terminal Malengkeri. Katakan saja kepada sopirnya agar diturunkan di persimpangan jalan menuju benteng somba opu, dan ongkosnya tiga ribu rupiah. Namun saya pada saat itu, ketika sampai di cendrawasih, supirnya bertanya hendak kemana, dan beliau mau mengantarkan sampai ke persimpangan menuju benteng somba opu namun ongkosnya ditambah menjadi lima ribu rupiah. Lumayan... jadi lebih mudah.

Setelah diturunkan dari pete pete, kita harus berjalan lagi sekitar 1 km untuk menuju lokasi benteng somba opu. Saya mencoba naik becak yang banyak mangkal disitu. ongkosnya 10 ribu. Ternyata kompleks benteng somba opu sangat besar. Dari gerbangnya sampai ke bentengnya yang lokasinya paling ujung mungkin ada 1 km. Saya diantar ke lokasi bentengnya. Dan ternyata, sangat jauh seperti benteng Fort Rotterdam. Benteng ini hanya terdiri dari sekumpulan tembok batu setinggi 2 meter yang panjangnya mungkin sekitar 5 - 10 meter. Ternyata benteng ini dulunya diduga berbentuk segi empat mengelilingi area sebesar 1500 hektar. Panjang temboknya sampai 2 km. Namun sempat dihancurkan Belanda dan kemudian terendam air laut. Nah, di area ini banyak dibangun rumah rumah adat dari berbagai suku yang ada di sulawesi selatan. Terdapat juga museum yang bernama museum Karaeng Patingalloang yang berisi barang barang yang ditemukan ketika proses penggalian benteng ini. Ada uang, jenis bebatuan, meriam, dan lainnya. yang menarik dari museum ini, terdapat gambar perkiraan dari benteng ini, namun gambarnya terdapat di langit langit museum, dan kita melihatnya dari cermin yang terdapat di bawah. Biaya masuk museum sebesar lima ribu, untuk ke kompleksnya gratis.
Sisa peninggalan Benteng Somba Opu

Museum dan Rumah adat di Kompleks benteng Somba Opu

Masih terus dilakukan penggalian dan penelitian terhadap benteng ini. Banyak mahasiswa yang belajar di benteng ini, mungkin mereka mahasiswa sejarah atau arkeologi. Dulunya tinggi tembok tembok tersebut sekitar 7 meter, namun karena sedimentasi dan tidak ditempati selama ratusan tahun, jadinya tertimbun tanah. Inilah sisa dari kerajaan Gowa dan sekarang lokasi benteng ini berada di kabupaten gowa. Setelah saya rasa cukup, saya kembali ke persimpangan jalan tempat melintasnya pete pete. Cukup melelahkan berjalan di terik matahari sekitar 1 km lebih. Karena saya ingin ke Tanjung Bira, maka tujuan saya adalah ke Terminal Malengkeri. Beruntungnya, dari persimpangan jalan benteng somba opu ke Terminal Malengkeri tidak terlalu jauh. Sekitar 20 - 30 menit naik pete pete. Ongkosnya sekitar 2 ribu atau 3 ribu tergantung supirnya :)

Sampai di Terminal Malengkeri, saya langsung mencari kendaraan yang menuju Tanjung Bira atau Bulukumba. Transportasi disana menggunakan kendaraan Kijang atau Panther. Beruntungnya saya setelah saya masuk, mobil langsung berangkat. Karena memang supirnya baru mulai jalan kalau sudah ada penumpang minimal 3 orang. Namun yang kurang enak adalah ongkosnya. Selama di perjalanan masih di kota makassar, banyak penumpang masuk, namun rata rata ke Bulukumba. Hanya saya dan seorang yang lain ke Tanjung Bira sehingga supir hanya ingin ke Tanjung Bira. Persetujuan awal, ke Bulukumba ongkosnya 35 ribu sementara ke Tanjung Bira 50 ribu. Namun karena kami hanya berdua ke Tanjung Bira, supir minta 70 ribu untuk kami berdua. Sebenarnya saya ingin turun  di Bulukumba saja. Namun karena seorang lagi perempuan dan membawa banyak barang (sepertinya dia berdagang di Tanjung Bira), dia pinginnya langsung ke Tanjung Bira. Yah... apa boleh buat, saya mengalah sajalah... ongkos saya jadinya 70 ribu. Tapi dengan bantuan pak supir, ketika memasuki kompleks Pantai Tanjung Bira, saya tidak dikenakan biaya turis..hehehe....
saya lihat, untuk turis domestik dikenakan biaya administrasi 10 ribu rupiah.. Ya, dianggap impas sajalah.

Sebenarnya bila kita dari Terminal Bulukumba menuju Tanjung Bira tidak sulit. Dari terminal Bulukumba, tinggal naik pete pete jurusan Tanjung Bira, ongkosnya 12 ribu. Atau bisa juga dari Terminal Malengkeri mengambil bus yang menuju Pulau Selayar. Nanti kita turun di pelabuhan Tanjung bira (jangan sampai ikutan menyeberang :)). Dari pelabuhan Tanjung Bira, ke pantainya dan penginapannya tinggal berjalan 500 meter, atau naik pete pete bayar seribu rupiah.
Perjalanan dari Makassar ke Tanjung Bira memakan waktu sekitar 5-6 jam. Sebenarnya jaraknya 200 km. Namun di tengah perjalanan ada bagian jalan yang rusak, ada juga melewati kota yang cukup ramai, sehingga memakan waktu lebih.

bersambung...

No comments:

Post a Comment

Post a Comment