Saturday, August 10, 2013

Pendakian ke Gunung Gede

Perjalanan mendaki ke gunung Gede ini sebenarnya mendadak. Awalnya ada teman yang berangkat ke gunung gede dan setelah turun memberi info bahwa edelweiss lagi mekar mekarnya. Akhirnya ada teman yang hobi fotografi mengajak kami untuk mendaki gunung gede. Persiapanpun dilakukan sesingkat mungkin.
Awalnya kami berencana untuk naik dan turun melalui track gunung putri. Namun karena ada teman yang ingin merasakan jalur Cibodas (walaupun memakan waktu yang lebih lama), akhirnya kami putuskan untuk naik dari jalur gunung putri dan turun dari jalur cibodas.

Gunung Gede merupakan bagian dari Taman Nasional Gede Pangrango. Gunung Gede dan Gunung Pangrango adalah dua gunung yang saling bertetanggaan. Jalur awalnya pun sama. Namun banyak orang memilih Gunung Gede karena pemandangan lebih baik di Gunung Gede dan ada hamparan padang rumput Surya Kencana yang indah. Dua track pendakian gunung gede yang terkenal adalah melalui jalur gunung putri dan cibodas. Kedua awal jalur tersebut berada di lokasi puncak kabupaten bogor. Untuk menuju desa gunung putri  melalui cipanas, masuk ke jalan tepat di samping istana presiden cipanas. Sementara bila naik dari cibodas, melalui kawasan wisata cibodas.
Akses menuju kesana juga mudah, bisa menggunakan angkutan umum menuju puncak dari bogor. Mungkin yang agak sulitnya adalah tidak ada angkutan umum dari tepi jalan raya cipanas menuju desa gunung putri. Jaraknya mungkin sekitar 10 km. Namun kita bisa menyewa angkutan umum atau menggunakan ojek motor.

Kami berencana naik sabtu pagi dan turun minggu malam. Perjalanan ini memang singkat. Karena kami naik mobil dari Jakarta, mobil harus diparkir dulu di Cibodas. Salah seorang teman kembali ke Cibodas memarkir mobil setelah mengantar kami dan perbekalan di gunung putri, dan kembali ke gunung putri menggunakan ojek motor. Tarif ojek motor dari cibodas ke gunung putri kalo ga salah 30 - 40 ribu.

Untuk mendaki gunung Gede, sebelumnya harus mendaftar dulu di pusat informasi Cibodas dengan biaya lima ribu per orang. Nah ketika hendak naik dari jalur gunung putri, maka kita akan melapor dulu ke pos informasinya dan menunjukkan bukti pembayaran. Selain itu juga diberikan briefing singkat. Salah satu point pentingnya adalah untuk saat ini mendaki gunung diwajibkan menggunakan sepatu tertutup. Selain itu harus menjaga kelestarian alam dengan tidak membuang sampah sembarangan, dilarang membuat api, dan juga tidak boleh membawa sabun, deterjen atau odol karena hal ini dapat mencemari sumber air yang cukup banyak di area gunung gede. Hal ini penting karena mata air dan sungai dari gunung gede merupakan sumber air untuk masyarakat Bandung, Jakarta dan sekitarnya.

Perjalanan kami mulai pukul 11 siang. Awalnya kami melalui perkebunan sayur milik masyarakat dan juga melintasi sungai kecil. Masyarakatnya memang banyak menanam sayur. Kami juga membawa brokoli dari desa gunung putri. Brokolinya segar segar, bahkan ada ulatnya yang membuktikan bebas pestisida..hehehe...
Setelah melintasi kebun sayur dan melewati gerbang gunung gede, mulailah memasuki hutan. Yang ada hanya pohon pohon besar dan lebat. Dari kejauhan terdengar suara ledakan yang bunyi secara rutin. Guide kami menjelaskan bahwa itu adalah meriam yang digunakan untuk mengusir babi hutan. Kalau tidak, babi hutan akan turun memakan dan menghancurkan ladang sayur warga. Guide kami juga bercerita kalau dulu dia lumayan sering berburu babi hutan menggunakan beberapa anjing. Dan ternyata susah juga menangkap babi hutan. Sering anjing menjadi korban. Dan kami pun bercanda andai ada seekor babi hutan yang kecil lewat dan bisa kami tangkap untuk dipanggang di gunung, pasti akan menjadi makan malam yang lezat...hahaha....
Kebun Sayur masyarakat di Desa Gunung Putri
Setelah melalui perkebunan, kami pun mulai memasuki kawasan hutan. Didahului dengan menjumpai gerbang masuk Taman Nasional Gede Pangrango. Gerbangnya hanya berupa tugu batu saja. Setelah itu kami hanya menjumpai hutan hutan yang lebat dan lembab.
Gerbang Taman Nasional Gede Pangrango dari desa gunung putri

Awalnya kami berencana untuk makan siang yang sudah kami bawa di pos yang bernama Buntut Lutung. Namun karena track yang terus menanjak dan teman juga mulai lapar, akhirnya kami makan di pos Legok Lenca, tepat satu pos sebelum Pos Buntut Lutung. Teman kami mengeluarkan trangianya, dan akhirnya kami juga ngopi disini. Setelah selesai makan siang, kami pun melanjutkan perjalanan. Setelah berjalan sekitar satu jam, kamipun melewati pos Buntut Lutung. Kami sudah terbagi kedalam 3 kelompok karena yang dibelakang berjalan agak lambat karena salah seorang teman kami lututnya agak bermasalah setelah cukup lama tidak mendaki lagi. Setelah itu, kami ada melewati dua pos lagi yaitu Lawang Seketeng dan Simpang Maleber. Untuk diketahui, pos pos yang tadi dilewati tidak ada bangunannya. Kebanyakan hanya berupa area yang agak datar dan sedikit lebar untuk dapat beristirahat. Di beberapa pos hanya terdapat sisa sisa fondasi bangunan pos.

Saya lupa ketika di area mana hujan mulai turun. Hujan yang turun benar benar lebat. Untunglah kami  membawa jas hujan lengkap, ditambah dengan hutan yang lebat, air hujan tidak langsung membasahi kami sehingga masih bisa berjalan terus walau lambat. Track menjadi becek dan sepatu saya mulai basah. Setelah berjalan dengan track yang terus menanjak dan diguyur hujan, akhirnya kami seperti keluar hutan. Kami melihat padang yang benar benar luas. Inilah yang disebut Alun Alun Surya Kencana. Padangnya begitu luas dimana tumbuhan hanya edelweiss dan rerumputan. Sementara di sebelah kiri dan kanan ada gunung dan bukit yang lebat. Seperti berada di sebuah lembah dibentengi oleh gunung dan bukit. Ketika keluar hutan, kita akan belok ke kanan menyusuri padang rumput yang panjang. Karena bila ke sebelah kiri, padang rumputnya akan berakhir dengan jalanan menurun yang curam seperti jurang. Kalau dilihat dari kejauhan, seperti menuju ke awan. Kami berjalan menyusuri padang rumput surya kencana mungkin sekitar 2 km. Akhirnya kami membuat tenda di surya kencana namun agak merapat ke tepi pepohonan untuk menghindari angin. Ada beberapa tenda lain disana, tidak banyak pendaki karena sedang bulan puasa. Enaknya disini adalah ada aliran sungai dan mata airnya sehingga tidak kesulitan dalam hal logistik. Kami sampai sekitar jam setengah 5 sore. Pada saat tiba di surya kencana, muncul lagi hujan yang agak deras untunglah hanya sebentar saja. Dan setelah itu, muncullah pelangi yang indah. Ujung busur pelanginya berada di surya kencana. Indah sekali. Bahkan ada pelangi satu lagi kelihatan samar sehingga ada dua busur pelangi. Kami mendapat bonus setelah hujan..hehehe....
Pelangi di Surya Kencana
Cuaca pun semakin dingin, apalagi karena hujan cukup lebat. Kabut awan pun sering turun di surya kencana. Di malam hari, bintang bintang pun terlihat sangat jelas. Suasana hutan benar benar hening dan damai.
Setelah selesai makan dan mengobrol sebentar, kami pun tidur. Kami berencana untuk tidak mengejar sunrise di puncak yang hanya tinggal sejam perjalanan lagi karena prediksi kami sunrise tidak akan tampak karena cuaca yang didominasi hujan.

Keesokan paginya, kami bermain di area surya kencana. Teman saya sibuk dengan fotografinya, sementara saya dan teman mencoba mengeskplor surya kencana dengan terus berjalan ke kanan. Ternyata padang rumput ini berakhir dengan jalanan menurun curam seperti jurang menuju hutan. Kami pun kembali. Sangat indah menyaksikan hamparan edelweiss yang lagi mekar. Di satu tempat, terdapat batu batu yang disusun empat lima buah. Kalau dari kejauhan terlihat seperti patung patung batu.
Teman saya bercerita, ketika tidur, selain mendengarkan suara mendengkur teman yang lain dan juga saya yang katanya sempat mendengkur (padahal saya sangat jarang mendengkur), dia sempat mendengar suara kuda meringkik. Memang itu menjadi bagian misteri di surya kencana ini. Mungkin saja rombongan kereta kuda raja sedang melintasi surya kencana. Jika ingin tahu cerita legenda mengenai surya kencana, cari saja di Internet. hehehe...
Alun-alun Surya Kencana
Setelah selesai sarapan dan berkemas, kami pun kembali berjalan. Perjalanan menuju puncak tidak lama. Bagi yang berjalan cepat, mungkin 30 menit juga bisa sampai. Tracknya batu batuan sudah tersusun baik seperti anak tangga. Namun susunan tangga yang terus menanjak ini cukup menguras energi. Ketika berjalan menyusuri bebatuan anak tangga ini, saya berpapasan dengan satu orang bapak dan seorang putrinya yang masih berusia mungkin 5-6 tahun. Pada saat itu putrinya mengeluh capek, tapi si Bapak malah memaksanya naik dan mengatakan akan meninggalkannya bila terus terusan capek. Tapi putrinya tidak menangis, dan mulai jalan lagi. Hebat sekali. Mungkin putrinya ingin dididik jadi atlet. Mental anak itu sangat kuat untuk seusianya. Ketika sedikit lagi saya dan teman saya mencapai puncak, kami mendengar teriakan si anak tersebut "Ommm..., masih jauh ga puncaknya?" Teman saya teriak "Sedikit lagiiii...." kamipun saling tertawa....Dan tentunya anak tersebut juga berhasil sampai di puncak.
Menanjak ke Puncak
Akhirnya kami sampai di puncak. Ketinggian tertinggi Gunung Gede di 2.958 diatas permukaan laut. Benar prediksi kami, kata pendaki yang lain, sunrise tidak kelihatan di pagi hari. Kami cukup lama di puncak beristirahat dan mengobrol. Dari puncak kelihatan puncak gunung Pangrango yang berada di sebelahnya dan hamparan hutan dan perbukitan yang luas. Selain itu kami bisa melihat alun alun surya kencana yang kami lintasi kemarin. Dan tentu saja kawah gunung gede yang besar sekali. Masih terlihat asap belerang yang keluar dari punggung kawah. Gunung ini memang masih aktif. Kabut awan menutupi sebagian besar area kawah dan pemandangan. Cukup lama kami menunggu agar cuaca menjadi lebih cerah.
Puncak Gede
Setelah itu kami pun pulang melalui jalur Cibodas. Kami menyusuri tepian puncak gunung gede yang panjang. Perjalanan terus menurun didominasi akar akar pohon, bebatuan, dan tanah keras. Harus hati hati agar tidak terpeleset. Kami beberapa kali berhenti. Lutut teman saya sudah bermasalah sepertinya. Setelah berjalan panjang, kami bertemu dengan turunan yang curam yang sering disebut dengan tanjakan setan. Ada tali yang disiapkan disitu. Salah seorang teman saya yang sudah bermasalah lututnya menggunakan jalur alternatif yang ada di dekat tanjakan setan ini. Dan lucunya, malah dia yang duluan sampai di bawah daripada kami yang harus menuruni tanjakan setan ini. Tanjakan setan ini merupakan tanjakan bebatuan yang curam sehingga harus menggunakan tali yang sudah ada sebagai pegangan. Setelah melalui tanjakan setan, kami pun berjalan kembali. Tracknya berupa tanah melintasi pepohonan lebat dan basah. Tidak terlalu menguras tenaga karena struktur tracknya berupa lintasan tanah yang rapi dan turunan landai. Sampai akhirnya tracknya berupa susunan anak tangga yang disusun dari bebatuan. Sepintas seperti menuruni anak tangga, tapi cukup pegel juga terus seperti itu. Kami menemukan pertigaan untuk mendaki menuju gunung Pangrango. 
Hutan yang lembab, Tanjakan Setan, dan pertigaan ke Gunung Pangrango
Tak berapa lama kemudian, kami tiba di Pos Kandang Badak. Disini kami berencana masak untuk makan siang. Disini juga tersedia mata air yang baik. Sedang dibangun juga sebuah pos yang bagus, mungkin untuk tempat beristirahat. Kami kelamaan beristirahat dan makan siang disini, baru berangkat pukul setengah empat sore.

Pos Kandang Badak
Jalanan yang kami lintasi adalah track bebatuan yang sudah disusun rapi. Track ini memang sudah diatur sedemikan rupa. namun kaki saya lama kelamaan sakit juga karena terkadang memijak sudut batu yang runcing walau menggunakan sepatu. Dimulai dari sini akan banyak ditemukan aliran sungai, air terjun, air panas yang membuat kita ingin berlama lama disana. Kami berhenti di sebuah air terjun yang dingin untuk berfoto. Kemudian berhenti lagi di air panas. Disini beberapa orang berendam air hangat. Setelah itu kami melalui air panas yang turun dari tebing bebatuan dan kita melintasinya. Seperti melintasi air terjun panas yang kecil. Asap putih pun mengepul seperti sauna. Keren sekali. 
Air Terjun


Air Panas
Setelah melalui itu semua, terkadang akan ditemukan aliran aliran sungai di dekat track perjalanan kita. Sangat banyak anak sungai. Air air inilah yang turun terus sampai menyuplai air untuk Bandung dan Jakarta. Akhirnya sudah jam 6 sore. Setelah melewati beberapa pos, tak terasa malam sudah menyambut. Senter dinyalakan. Saya berkata kepada teman saya, kenapa kita selalu hobi bertemu dengan malam kalau turun gunung. Teman saya pun tertawa. Pendakian saya sebelumnya bersama dengan beberapa teman yang sama ke Rinjani dan Semeru memang selalu berjalan pulang sampai malam hari. Setelah berjalan beberapa waktu, kami bertemu dengan pos yang baik dan masih baru. Disini juga persimpangan jalan menuju air terjun Cibeureum. Air terjun ini merupakan salah satu objek wisata bila naik dari Cibodas. Air terjunnya cukup besar. Karena sudah malam, tidak mungkin lagi kami kesitu. Kami lanjutkan perjalanan, mungkin sekitar 1 jam lagi. Di perjalanan kami melewati area pusat penelitian burung, dan juga pepohonan besar yang menjadi bagian penelitian. Kawasan ini memang menjadi kawasan para peneliti. Akhirnya saya bersama dua orang teman saya sampai di pos informasi cibodas sekitar jam setengah delapan malam. Tiga teman saya yang lain sampai sekitar 30 menit kemudian. Kami beristirahat disini sambil mengobrol dengan penjaga posnya. Ada spanduk besar tertulis bahwa kawasan Taman Nasional Gede Pangrango akan tutup selama bulan Agustus untuk umum untuk konservasi. Hal ini memang rutin dilakukan setiap tahun untuk menjaga kelestarian alam dan juga memperbaiki track pendakian. Saya berkata dalam hati seharusnya hal ini dilakukan juga di kawasan Pendakian Gunung Semeru. Gunung Semeru semakin kotor saja semenjak semakin banyaknya jumlah pendaki akibat boomingnya film 5cm. Para pendaki sering kali hanya sebagai penikmat alam, tidak mencintai dan memelihara. Lama kelamaan kawasan hutan pun semakin kotor. Setelah itu kami berjalan menuju parkiran Cibodas. Memakan waktu sekitar 20 - 30 menit. 

Setelah melewati gerbang area Taman Nasional, kami melewati area padang golf. Sebenarnya agak bertanya tanya juga, seberapa pentingkah padang golf di area konservasi seperti ini. Akhirnya kami sampai juga di parkiran dan beristirahat di salah satu warung yang banyak berderet disana. Beberapa teman juga menyempatkan mengambil foto bintang bintang. Perjalanan melalui jalur Cibodas ini memang memakan waktu yang jauh lebih lama karena turunannya lebih landai. Namun yang enak adalah karena Cibodas merupakan tempat wisata, banyak warung dan sangat dekat ke jalan raya puncak. Orang sering ke Cibodas ini untuk ke Kebun Raya atau tracking ke air terjun Cibeureum.
Akhirnya kami memutuskan untuk makan kambing dulu ke restoran di Puncak Pass. Setelah kenyang, akhirnya kami turun ke Jakarta kembali ke kediaman masing masing.

Thanks untuk Bro Firman, Bro Mike, Bro Boni A'to, Bro Mahendra, dan Bro Untung. Walau perjalanan singkat, tapi terasa menyenangkan dan juga mengenyangkan. Bekal dan masakan kita enak enak..hehehe....Thanks juga untuk foto fotonya :)

NB: Untuk informasi lebih lengkap mengenai Taman Nasional Gede Pangrango, dapat mengakses ke web resminya di www.gedepangrango.org


Wednesday, August 7, 2013

Pendakian ke Gunung Rinjani (2)

Kami berencana untuk memulai perjalanan menuju puncak gunung rinjani yang sering disebut puncak Anjani sekitar pukul 1 pagi. Biasanya orang mulai melakukan perjalanan antara pukul 12 malam - 2 pagi. Dan ternyata kami ketiduran. Baru bangun pukul dua pagi. Dengan buru buru kami sarapan dan akhirnya berangkat pukul setengah tiga pagi. Perjalanan sungguh jauh. Bila dibandingkan dengan Semeru, jarak menuju puncak lebih jauh Rinjani. Tapi track tanjakan pasirnya memang lebih panjang di Semeru. Hawa yang dingin membuat kami menggunakan jaket, syal, kaos tangan, dan sepatu lengkap. Tapi terkadang hal ini membuat kami kepanasan juga karena kecapekan terus menghadapi track bukit bukit yang menanjak. Satu jam pertama, medannya langsung menanjak. rutenya tanah dan batu berpasir dan terus menanjak. Ditambah cuaca yang dingin, ini benar benar menguras tenaga dan mental. Akhirnya rute ini berakhir dan harus jalan melintasi punggung gunung yang sangat panjang sebelum memasuki track pasir. Di kejauhan di depan sana, terlihat cahaya senter pendaki pendaki lain sehingga kelihatan bahwa rutenya masih panjang. Akhirnya sunrise muncul ketika kami masih di perjalanan. Pemandangannya luar biasa sangat indah. Dalam hati saya berterimakasih kepada Tuhan pencipta langit dan bumi atas keindahan yang diberikannya kepada Indonesia dan mengucap syukur atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk menikmati keindahan tersebut. Langit terlihat berwarna oranye kemerahan. Langit birupun mulai tampak membuka tabir keindahan gunung rinjani dan danaunya. Sementara bila melihat disisi lain, hamparan daratan yang luas terbentang tak terbatas. Matahari pagi pelan pelan muncul memberikan sinarnya untuk menghangatkan kami. Tapi tetap saja angin semilir yang berhembus memberikan rasa dingin bagi kami.

Sunrise di Rinjani
Setelah menikmati sunrise, kami pun melanjutkan perjalanan. Perjalanan masih panjang. Saya sebenarnya cukup lelah plus ngantuk juga. Tapi inilah tantangannya. Menaklukan diri sendiri. Menaklukkan rasa sakit, rasa lelah, mengalahkan pesimisme.
Mulai memasuki track berpasir perjalanan semakin sulit. Pasir pasir ini membuat langkah kaki seakan tak berarti. Melangkah dan merosot, seringkali seperti itu. Namun sesama pendaki sering saling menguatkan. Di gunung, rasa senasib sependeritaan itu memang muncul dengan sendirinya. Mengapa di kota tidak bisa seperti itu?
Air minum juga hanya saya bawa sedikit. Sebuah kesalahan. Untunglah ada pendaki lain yang memberikan beberapa teguk airnya. Teman teman saya ada yang sudah sampai di puncak, namun ada juga yang masih berjuang bersama saya di track pasir. Banyak juga pendaki yang mungkin benar benar kelelahan, tidur tergeletak di pasir tersebut untuk mengumpulkan tenaga. Enaknya track pasir di Rinjani dibanding Semeru adalah tracknya lebih lebar dan juga pengunjung tidak terlalu banya. Sehingga istirahat di track pasir tersebut masih menyisakan ruang cukup lebar bagi pendaki lain, tidak menghalangi.
Dan akhirnya saya mencapai puncak Rinjani dengan ketinggian 3726 m diatas permukaan laut Mungkin sekitar jam 8an.
Sampai di puncak, serasa berada di atap bumi, Tinggi sekali. Di kejauhan tampak gunung agung (kata teman saya). Kami bisa memandang batas langit di kejauhan. Danau Segara Anak yang terdapat di bawah juga kelihatan sangat cantik dengan Gunung Barujarinya. Nikmat sekali rasanya istirahat sambil menikmati alam ciptaan Tuhan. Matahari bersinar terik sehingga pemandangan benar benar cerah dan indah. Tak lupa mengabadikan indahnya pemandangan indah ini dalam jepretan foto.
Dari puncak kelihatan rute track pasir yang kami lalui. Cukup panjang. Melihat rute kami dari tenda menuju puncak, itu benar benar jauh. Tapi jauhnya perjalanan dibayar oleh pemandangan yang luar biasa indah.

Puncak Anjani

Setelah puas berfoto bersama, kami pun turun. Perjalanan turun awalnya masih menyenangkan karena bisa memandang terus keindahan danau dan pemandangan alam yang luar biasa. Melihat gunung baru jari, danau segara anak, dan batu batu pebukitan yang elok. Namun dikarenakan perbekalan yang menipis, serta panas yang semakin menyengat, rasanya semakin capek saja. Medan turunan yang sulit dan kaki yang sudah sangat pegal, serta mulut yang sudah kering serasa menghancurkan mental. Yang penting melangkah saja. Hanya itu satu satunya cara. Ketika jalan pulang kembali ke tenda, saya tidak menyangka sudah melalui medan yang sulit ini diwaktu gelap tadi. Benar kata salah satu turis yang  kami temui kemarin ketika berpapasan. Syukurlah mendaki gunung di waktu malam sehingga kita tidak melihat tracknya. Kalau pagi atau siang, mungkin melihat tracknya saja sudah capek. hehehe.... Track satu jam terakhir menuju tenda di Pelawangan adalah turunan tanah berpasir. Inilah rute awal yang kunaiki tadi pagi. Ternyata turunnya juga sulit. Sangat mudah terpeleset. Pantat pun jadi korban. Naiknya sulit turunnya pun sulit. Memang benar benar.....
Akhirnya tiba juga di perkemahan Pelawangan. Saya benar benar lelah, mental saya pun lelah. Benar benar terkuras. Setelah selesai makan siang, kami beristirahat sebentar. Rencana jam 2 siang kami akan menuju danau segara anak. melalui jalanan menurun yang curam dan berbatu.

Sedikit meleset dari rencana, kami baru berangkat jam 3 sore. Teman saya juga sudah ada yang mulai kram sehingga jalanan agak lambat. Track menurun yang didominasi batu batuan yang curam cukup membuat lutut bekerja keras. Setelah melalui track bebatuan sekitar 1-2 jam, akhirnya kembali ke track tanah. Pemandangan danau tidak terlihat lagi, karena tertutupi hutan. Terkadang, muncul kabut di sore hari yang agak membuat merinding. Seperti melalui area yang ada daya magisnya. Saya dan beberapa teman hampir saja tersesat. Untunglah kami curiga kenapa di jalur ini, tumbuhan mulai liar dan tidak ada sampah seperti sudah jarang dilalui orang. Dan ternyata benar. Salah satu teman kami naik kembali dan menemukan rombongan lain. Setelah berjalan kembali malam hari, akhirnya kami sampai di lokasi tenda di tepi danau segara anak sekitar jam 8 malam.
Track turun menuju danau Segara Anak

Setelah makan, menikmati bintang sebentar, dan sebentar ngobrol dengan teman setenda, saya langsung tidur karena kelelahan. Disini udara cukup dingin, lebih dingin dibanding Pelawangan. Tapi dengan berbagai kelengkapan seperti kaos kaki, jaket, kaos tangan, syal, itu sudah cukup. Berbeda dengan daerah Kalimati atau Arcopodo di Semeru yang dinginnya luar biasa menusuk sampai bisa hujan es. Perjalanan hari ini memang cukup melelahkan, dimulai dari menuju puncak Rinjani sampai akhirnya turun ke danau.

Keesokan paginya, bangun pagi kami sempat berfoto di danau dan bermain air. Air di danau ini memiliki kandungan belerang. Makanya ikan yang berenang di danau tersebut, kulitnya kurang bagus. Tapi ukurannya cukup besar. Ada juga yang mancing. Disekitar danau juga terdapat pura. Sebenarnya kami harus berangkat pagi untuk turun ke Desa Senaru. Tapi godaan untuk bermain di air panas dan air terjun di dekat lokasi tenda membuat kami mengubah rencana. Pemandangan disini juga luar biasa indah. Ada aliran sungai, air terjun, bukit bukit dan lembah. Luar biasa indah...
Danau Segara Anak
Air Danau sepertinya mengalir ke sungai yang ada di salah satu tepi danau. Sebagian airnya menuju air terjun yang tidak terlalu besar. Di bawah air terjun inilah kita dapat berendam karena airnya panas. Hawa panas berasal dari uap yang muncul dari dalam tanah. Air yang dingin dipanaskan oleh uap tersebut menjadi panas. Lokasi ini hanya sekitar 5 menit dari tempat tenda di tepi danau segara anak. Lokasinya yang berada di celah pebukitan memberikan pemandangan yang sangat indah. Sebenarnya di sebelah lain ada kolam yang lebih besar lagi untuk bisa berenang. Tapi kami tidak kesana karena airnya dingin. Berendam di air panas membuat segala pegal pegal hilang sejenak.
Aliran sungai, air terjun, dan air panas
Setelah berkemas, akhirnya kami mulai berjalan sekitar pukul 10an pagi. Rute perjalanan kami menuju Desa Senaru. Dengan kondisi yang masih lemas, sebenarnya guide kami sudah wanti wanti, pasti ini akan sampai malam. Tapi tak ada pilihan lain. Jalan dan melangkah saja.
Perjalanan dimulai dengan menyeberang sungai, kemudian mengitari danau. Perjalanan mengitari danau menghabiskan waktu sekitar 40 menit. Sebentar kami beristirahat sambil menikmati pemandangan danau. Pergerakan awan dan kabut membuat pemandangan sangat cepat berubah. Sesaat gunung barujari terlihat jelas, tapi sesaat kemudian kabut menutupi semuanya.
Mengitari danau
Setelah mengitari danau, kami pun mulai mendaki lagi. Inilah hebatnya gunung ini, mau pulang saja, kita harus mendaki lagi keluar dari area danau yang berada di kawah. Area pendakian ini adalah tebing bebatuan yang lumayan curam dan cukup memakan tenaga. Tapi pemandangan luar biasa indah. Sesekali kami berhenti menikmati keindahan alam rinjani. Edelweis pun mekar. Kami sempat beristirahat di lokasi yang banyak batu datarnya. Pemandangan dari sini juga sangat bagus. Di satu waktu ketika berjalan, hujan turun. Kami pun memakai jas hujan kami. Setelah hujan berhenti, muncul pelangi yang berada di atas danau. Indah sekali... Tuhan benar benar menunjukkan karya ciptaanNya.

Perjalanan Pulang menuju Senaru
Setelah selesai menanjak, mulai perjalanan mendatar dan kemudian menurun lagi. Pemandangan indah selalu saja ada silih berganti. Kami juga banyak berpapasan dengan orang lain yang kebanyakan turis asing. Mereka mengambil jalur Senaru untuk menuju puncak dan akan turun melalui Sembalun. Berkebalikan dengan kami. Di salah satu tebing, kami menemukan prasasti kecil yang dibuat oleh Kopassus. Isi kalimat penyemangatnya kalau tidak salah "Berjuang sampai Akhir". Menurut guide kami, Rinjani juga sesekali menjadi lokasi latihan Kopassus. Setelah melewati tebing bebatuan, pemandangan sedikit berbeda. Sekarang didominasi untaian bukit bukit dan pepohonan. Cuaca sebenarnya cerah. Tapi terkadang kabut datang menyergap, hawa dingin datang menerpa. Begitu silih berganti. Akhirnya kami tiba di pos 3 sekitar jam 5 sore. Ini adalah pos terakhir sebelum masuk hutan. Setelah pos ini kami hanya akan melalui hutan dan tidak ada pemandangan lain lagi, dan memang sudah mulai menjelang malam. Disini kami benar benar beristirahat dan makan sore/malam. Yang cukup unik adalah, kami menemukan ibu ibu turis asing seorang diri mendaki, namun porternya ada 3 orang. Turis asing saja sampai segitunya berjuang datang ke Rinjani, ibu ibu lagi.... Merupakan motivasi bagi saya untuk mengelilingi Indonesia yang indah ini.
Pos 3 Senaru
Akhirnya kami mulai melanjutkan perjalanan jam setengah tujuh malam. Senter sudah disiapkan. Ternyata perjalanan ini sangat amat panjang. Guide kami juga memaksa kami untuk terus berjalan dan hanya beristirahat sebentar selama dalam perjalanan. Walau lambat, yang penting melangkah. Setiap langkah menuruni akar tanaman ataupun bebatuan, kaki ini serasa menjerit. Sakit pegelnya bukan main. Setelah melewati beberapa pos, akhirnya kami keluar gerbang hutan sekitar jam 12 malam. Keluar dari gerbang hutan, guide pun bisa tersenyum lega dan menyalami kami, karena sudah melewati kawasan hutan yang angker di tengah kegelapan malam. Ya, menurut guide kami, hutannya masih terkenal angker. Kami beristirahat sebentar disini. Tapi pemandangan bintang masih indah. Sinyal sudah ada, sehingga kami bisa menghubungi teman yang sudah lama menunggu di pos informasi Senaru. Kami semua sudah sangat letih dan ngantuk, tapi sebenarnya ini belum akhir perjalanan. Karena kami harus berjalan satu jam lagi melewati ladang dan kebun rakyat untuk sampai di pusat informasi Rinjani Senaru dan juga bertemu dengan jalan raya. Air minum kami sudah benar benar habis sejak di pos 1. Saya hampir saja ingin minum dari pipa air yang kedengaran menjerit di parit tepi jalan setapak. Tapi karena tidak kelihatan dimana pipa air yang bocor itu, akhirnya saya urungkan. Akhirnya kami sampai di kantor pusat informasi jam 1 an pagi. Akhirnya bisa minum lagi walau hanya air ledeng. Tak ada lagi penjaga di kantor tersebut. Tapi ruangnya yang terbuka membuat kami bisa istirahat sebentar. Sekitar sejam kami disini. Teman kami sudah menunggu kami dengan mobilnya sejak jam 7 malam. Kami pun harus minta maaf karena mereka sudah menunggu lama. Rencana awal sebenarnya kami akan diantar ke Hotel di Senggigi. Namun karena sudah malam dan jalan dari Senaru menuju senggigi jauh dan takut tidak aman, akhirnya kami ke Hotel di mataram saja. Kami tiba di hotel jam setengah lima pagi. Ada kejadian lucu dihotel ketika kami langsung memborong minuman di lemari es di lobby hotel seperti orang yang ga pernah minum. Kami menginap di Hotel Griya Asri di Jalan Pendidikan mataram. Hotelnya sangat nyaman. Harga kamarnya juga standar. Walau tidak memiliki kolam renang, Hotel ini sangat menyenangkan. Alamat lengkap hotel griya asri adalah di Jl. Pendidikan No 58 Mataram 83125, Lombok Indonesia, Telp 0370-638474. alamat webnya di www.griyaasrihotel.com

Saya baru tidur pukul setengah enam pagi dan bangun jam setengah sepuluh. Saya dan sebagian teman yang bangun masih sempat mendapatkan sarapan pagi. Setelah benar benar membersihkan diri, akhirnya kami check out dari hotel sekitar jam 2 siang (waktu check outnya mendapat kelonggaran dari hotel). Saatnya berwisata santai sambil menunggu jadwal pesawaat di malam nanti. Kami pun menyewa sebuah mobil. Tujuan pertama adalah makannnnnn.. Kami pun langsung menuju restoran khas mataram lombok yaitu ayam taliwang dan pelecing kangkung.Saya lupa restorannya dimana, tapi menunya benar benar nikmat. Ditambah kami yang memang masih lelah, disuguhi makanan yang nikmat, hasilnya adalah porsi makan yang ga karu karuan...hehehe...
Setelah selesai makan, kami menuju toko souvenir. Selain membeli kaos dan cemilan khas lombok seperti dodol rumput laut, saya juga membeli madu yang juga merupakan khas dari lombok ini.
Kemudian setelah selesai, kami menuju Pantai Kuta yang memang dekat dari bandara Praya. Pantai Kuta di sore hari. Pantai ini masih terlihat sepi. Memang menurut para turis mancanegara, pantai Kuta di Lombok saat ini, mirip seperti pantai Kuta di Bali sekitar 20 tahun lalu dimana pantainya yang memang panjang dan bersih serta masih sepi. Kami menghabiskan senja di pantai ini. Yang agak mengganggu adalah, anak anak penjual souvenir yang menjual dagangannya dengan memaksa. Itu cukup mengganggu saya pikir. 
Air lautnya surut menjelang malam. Banyak orang menggunakan sepeda motor mengitari pasir pasir yang airnya surut. Mereka mencari kerang laut. Pantai ini sangat panjang. Tak mungkin mengitarinya dalam sebuah sore. Selain itu banyak bebatuan unik yang berada di tepi pantainya. Pantai ini memang indah dan masih bisa dikatakan asli.
Pantai Kuta Lombok
Setelah selesai, kami pun kembali ke bandara internasional Lombok Praya, untuk mengejar pesawat jam 8.30 malam waktu indonesia tengah. Seperti biasa, sebuah perjalanan ada awal dan akhir yang direncanakan. Bila perjalanan belum berakhir sesuai rencana, berarti mungkin kami sedang lost in the middle of nowhere. Hehehe... Perjalanan di pesawat serasa sangat cepat karena kami hanya tidur kelelahan di pesawat. Kami tiba di jakarta jam 9.30 malam waktu indonesia barat dan kembali ke kediaman masing masing. Pikiran saya terus dibayangi keindahan alam Rinjani.
pulang

Thanks to Aruna, Kintan, Om Teddy, Bro Boni A'to, Bro Mahendra, Bro Untung, Bro Paulus, dan guide Mas Totok. Perjalanan bersama kalian sungguh menyenangkan. Thanks juga foto fotonya :)

NB: Kepada pembaca, Percayalah, pemandangan Taman Nasional Rinjani dari awal sampai akhir sangat sangat indah. Lebih indah dari foto foto ini :)

Saturday, August 3, 2013

Pendakian ke Gunung Rinjani (1)

Perjalanan mendaki gunung Rinjani bersama dengan teman teman sekantor ini dimulai di hari kamis pagi. Dari bandara soekarno hatta, kami naik pesawat Lion Air pukul 5 pagi menuju Lombok. Dengan perbedaan waktu satu jam, kami tiba di Lombok pukul 8 pagi waktu indonesia tengah.
diatas Lombok

Bandara Internasional Lombok yang berada di daerah yang bernama Praya, Lombok Tengah ini masih kelihatan baru dan bagus. Tanahnya juga luas sangat memungkinkan untuk dikembangkan lagi menjadi lebih besar. Namun satu yang menarik perhatian adalah di teras bandara banyak masyarakat yang duduk duduk sekedar memperhatikan para traveller lalu lalang. Bahkan di parkiran, terdapat orang orang yang berjualan menyerupai pedagang kaki lima. Benar yang diinfokan selama ini. Mereka ingin melihat indahnya bangunan dan susasana keramaian, apalagi dulu bandara itu merupakan tanah mereka. Agak sedih sebenarnya melihat kenyataan seperti ini.
Posisi bandara Praya ini sebenarnya dekat dengan Pantai Kuta yang indah. Namun karena tujuan utama kami adalah Gunung Rinjani, maka ke pantai kuta menjadi rencana terakhir kami sebelum pulang nantinya.
Kami telah ditunggu oleh teman yang bekerja di Lombok, dan teman kami bersama temannya sudah mempersiapkan segala belanjaan yang kami pesan sehingga kami dapat menghemat waktu.

Sebelum menuju Desa Sembalun, kami makan siang dulu. Setelah perjalanan sekitar satu jam, kami tiba di Rumah makan Sederhana Rarang di daerah Rarang Lombok Timur. Makanan khasnya ayam dengan bumbunya yang pedas. Mantap... kami pun makan lahap sebelum melakukan perjalanan panjang.
Rumah Makan Sederhana Rarang

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan sekitar 1-2 jam lagi menuju Desa Sembalun. Kami sempat berhenti di salah satu titik perjalanan untuk berfoto dan menikmati pemandangan yang indah. Dari sini saja, sudah kelihatan indahnya Kawasan Taman Nasional Rinjani...
Pemandangan bukit dan lembah yang indah
Sayangnya pada saat itu sedang ada kampanye pilkada bupati, sehingga banyak mobil yang berkampanye lalu lalang orasi ga jelas. Yang paling parah, kami lihat dengan mata kepala sendiri, mereka yang kampanye membuang sampah ke jalanan dari dalam mobilnya yang bagus yang ada logo partai berlambang mercy. Begini toh modelnya???

Setelah sampai Desa Sembalun, Lombok Timur, kami singgah dulu ke SDN 04 Desa Sembalun, desa di kaki rinjani,  untuk memberikan sumbangan buku buku bacaan perpustakaan. Hal ini memang sudah dipersiapkan sebelumnya. Walau sebenarnya hari kamis ini libur, tapi rumah salah satu gurunya ada di belakang sekolah tersebut.
SDN 04 Sembalun

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke pos pendaftaran di Rinjani. Tiket masuk untuk mendaki gunung adalah Rp. 2500 per orang.
Setelah berkemas kemas, melakukan perencanaan, dan berdoa, perjalanan pun dimulai. Kami bersembilan termasuk seorang guide, Mas Totok yang orangnya sangat friendly dan sudah pengalaman, serta memiliki hobi fotografi. Peralatan perang fotografinya mantap...
Pusat Informasi Rinjani

Perjalanan kami sesuai dengan peta pendakian Rinjani yang saya ambil di http://www.lombok-travelnews.com. Dimulai dari Desa Sembalun, dan berakhir di Desa Senaru. Gambar peta dibawah juga ada di Pusat Informasi Rinjani dalam bentuk miniatur.
Peta Pendakian Rinjani

Kami start sudah siang. Awalnya kami berencana untuk  nenda di pos 3, tapi tergantung situasi sajalah mana yang nyamannya.
Selama dalam perjalanan, pemandangannya luar bisa indah.
Dimulai dengan melewati area ladang penduduk. Setelah itu kami melewati aliran sungai yang airnya tidak ada lagi. Setelah berjalan meliuk liuk menaiki bukit, ada satu bukit yang kami lalui yang dipenuhi dengan sapi yang tiap sapinya ada loncengnya. Suara loncengnya bersahut sahutan...kerennn...

Kebun penduduk dan bukit sapi
Setelah melalui kebun sapi, kami melalui area tanaman keras dan pohon besar. Tapi itu tak lama. Setelah itu, pemandangan luar biasa pun mulai tampak. Hamparan padang yang luas dan langit yang cerah. Benar benar sangat indah. Perjalanan kami sebenarnya lumayan panjang dan melelahkan. Perjalanan didominasi naik dan turun bukit. Namun keindahan padang rumput seperti yang ada di film kartun anak anak Teletubbies membuat kami seperti tak merasakan lelah. Melihat pemandangan ini, saya teringat salah satu wallpaper microsoft windows bergambar padang rumput, tentu saja padang rumput rinjani jauh lebih indah.
Padang rumput menuju Pos 2

Akhirnya kami tiba di Pos 2 jam 5 sore lewat, kami memutuskan untuk nginap di pos dua saja. Tenda kami tepat di atas jembatan. Di bawah jembatan, ada sumber air namun kecil. Sepintas tak terlihat dan harus turun agak ke bawa.
Lokasi ini sangat indah. Dari bukit di dekat jembatan, gunung rinjani kelihatan dan pemandangan sangat indah. Gunung dan hamparan padang rumput. Indah sekali. Kami menikmati senja di sore hari dan fajar di keesokan paginya disini. Damai sekali.

Pemandangan dari Pos 2
Dan di malam hari, pemandangan bintang bintang benar benar indah. Terlihat hamparan galaksi Bima Sakti.
Saya masih saja selalu takjub melihat foto yang diambil teman saya Paulus ini. Tenda kami yang berada di atas jembatan, dinaungi oleh hamparan bintang bintang yang tak terkira banyaknya. Bahkan terkadang saya melihat bintang jatuh. Saya berdoa pada Tuhan agar kami selalu berada dalam lindunganNya.
pemandangan bintang di Pos 2

Keesokan harinya, jumat pagi, setelah sarapan, berkemas dan menikmati pemandangan, kami melanjutkan perjalanan. Ada beberapa pos yang kami lewati, dan juga pemandangan pemandangan yang menakjubkan selama dalam perjalanan. Di Pos 3 tempat kami sebentar beristirahat, banyak didiami oleh monyet. Mereka melakukan tindakan tindakan aneh yang mengundang tawa. Tapi tetap harus hati hati karena terkadang mereka mau mencuri makanan kita. Di pos 2 tempat kami menginap semalam, snack teman saya dicuri oleh monyet yang berjalan mengendap endap ke jembatan. Salahnya sendiri sepele terhadap monyet. Monyetnya pintar mencuri. Sudah layak menjadi anggota DPR...hahaha.....

Setelah itu perjalanan tetap didominasi naik turun bukit dan lembah dan hamparan padang rumput. Selalu saja berdecak kagum. Sebelum mencapai pelawangan, ada satu pemandangan yang cukup indah. Kita berjalan seperti menelusuri puncak bukit dan sedikit menanjak, jika melihat jauh ke depan seperti jalanan itu habis, mungkin menuju ke sorga karena indahnya hamparan langit. Tapi sampai di ujung, ternyata jalanan menurun dan mulai menemukan area perkemahan pelawangan. Selama dalam perjalanan, terkadang kabut menyergap sebentar dan setelah itu cerah kembali. Mungkin karena sudah berada di ketinggian, kabut sangat mudah menyergap perjalanan kami.
Perjalanan menuju Pelawangan

Akhirnya kami sampai di pelawangan di siang hari. Ini adalah lokasi terakhir tempat membangun tenda. Ketinggiannya sekitar 2300an meter. Dari sini kelihatan puncak rinjani yang berusaha akan digapai mulai malam nanti. Awalnya awan cukup tebal. Dan karena ketinggian lokasi pelawangan sudah berada di atas awan, danau tidak kelihatan. Namun kelamaan, awan bergerak dan akhirnya kelihatan danau segara anak di bawah. Disini terdapat juga mata air sehingga sangat membantu dalam perbekalan. Teman teman yang hobi fotografipun langsung mengeluarkan segala peralatannya. Di malam hari pun kami tetap dinaungi oleh milyaran bintang bintang. Indahnya ciptaan Tuhan.
Pelawangan
Sangat banyak turis asing yang berada di kawasan ini. Mungkin 50 persen dari pengunjung adalah wisatawan asing, kami sempat mengobrol dengan turis asing dari malaysia, eropa bahkan dari amerika latin. Keindahan Rinjani memang tiada tara. Pemandangan bintang di malam hari pun sangat menakjubkan. Setelah selesai makan malam, kami pun ngobrol kesana kemari, bercanda, menikmati indahnya bintang bintang, dan akhirnya istirahat untuk melanjutkan perjuangan ke puncak Rinjani jam 1 pagi nanti..

(bersambung)

Monday, July 22, 2013

Menyelam di Kepulauan Seribu

Menyelam (diving) di pulau seribu sekitar bulan februari 2013 ini sebenarnya bagian dari praktek untuk mengambil sertifikasi diving open water saya. Setelah membahas teori teori diving di kelas, kemudian praktek di kolam renang, dilanjutkan dengan praktek di laut. Saya dan beberapa orang teman sekantor yang sama sama kursus diving dan teman teman yang lain yang memang sudah memiliki sertifikat bersama sama pergi. Sepertinya ada 20 orang lebih.
Instruktur kami bang Sarwo Edhie Mohan yang jam terbang selamnya sudah tak dihitungnya lagi. Orangnya menyenangkan dan yang paling penting adalah sangat mengutamakan safety. Itu yang membuat kami nyaman menjadi muridnya.

Rencana awal kami berangkat jam 8 pagi menggunakan kapal cepat (speed boat) PREDATOR dari pelabuhan marina ancol tujuan pulau pramuka. harganya cukup mahal 200 ribu rupiah per orang sekali jalan. Namun perjalanan hanya memakan waktu satu jam saja.
Karena ada yang terlambat akhirnya kami berangkat jam 10 pagi.
Speed Boat Predator

Sampai di pulau pramuka yang merupakan pusat pemerintahan kabupaten administrasi kepulauan seribu, kami langsung makan siang dan membereskan segala peralatan di penginapan yang sangat dekat dengan tempat kapal bersandar.
Penginapan
Kami menaiki kapal nelayan yang sudah disewa, dan kemudian menuju titik penyelaman pertama. Tujuan diving pertama adalah di daerah pulau semak daun bagian utara. Setelah hampir sejam kami latihan, kami singgah sebentar ke pulau semak daun yang sebenarnya tidak berpenghuni tetapi ada pengunjung yang mendirikan tenda dan ada juga satu warung disitu yang menjual juga kelapa muda. Setelah selesai istirahat kami langsung menuju titik penyelaman kedua di pulau semak daun bagian karang sempit. Karena kami baru pertama kali menyelam, sangat banyak kejadian kejadian yang sebenarnya salah. Ada yang tiba tiba kehabisan tabung udara, saya sendiri kesulitan melakukan ekualisasi sehingga harus sangat lambat untuk turun. Padahal kami hanya masuk sampai ke kedalaman 12-14 meter. Ada juga teman yang meninggalkan budynya. Akhirnya penyelaman kedua selesai sekitar jam setengah enam sore. Ketika kami naik ke permukaan laut, ada lumba lumba di kejauhan yang bermain main. Di perjalanan pulang ke penginapan selama di kapal nelayan, pemandangan senja sungguh indah.
Malamnya kami mendiskusikan berbagai kesalahan tersebut sambil melihat video dan belajar tentang kesalahan kesalahan tersebut. Sebenarnya malam itu kami harus ujian tertulis, namun karena lelah akhirnya disepakati ujiannya ketika di jakarta saja.

Keesokan paginya kami latihan lagi. Diawali dengan skin diving (seperti snorkeling). Dan belajar berbagai cara rescue bila terjadi sesuatu di laut. Setelah itu kami mulai lagi penyelaman yang ketiga sekitar hampir sejam langsung dari dermaga kayu pulau pramuka. Disana sangat banyak ditemukan bulu babi yang harus dihindari. Dan setelah beristirahat, kami pergi ke titik penyelaman yang keempat di daerah tanjung penyu. Disinilah kami sudah menikmati penyelaman. Kami sudah bisa menyaksikan keindahan bawah laut dengan tenang. Kebetulan di titik keempat inilah airnya yang sangat jernih dan kami menemukan dua ekor penyu. Setelah menyelam sekitar 1 jam, kami langsung naik ke kapal dan kembali ke penginapan. Kami harus buru buru membersihkan segala perlengkapan, makan siang karena kapal predator berangkat jam 3 sore menuju dermaga ancol.




Diving
Di dekat pulau pramuka ada juga, tempat penangkaran hiu. Kita bisa menuju kesana menggunakan kapal nelayan yang disebut ojek dengan Biaya seperti naik metro mini..hehehe...
Penangkaran Hiu
Teman teman kami yang lain hanya diving di hari sabtu, sementara di hari minggu mereka banyak bermain main, berendam, dan mengambil objek foto di beberapa pulau.
Akhirnya kami pulang dan  tiba di pelabuhan marina ancol sekitar jam 4 sore. Langsung terasa perbedaan aroma bau air laut di ancol dibandingkan di kepulauan seribu. Dan perjalanan kami pun harus berakhir di pelabuhan marina ancol.




Wednesday, June 19, 2013

Perjalanan ke Makassar (TN Bantimurung, Losari dan sekitarnya), Tana Toraja, dan Tanjung Bira (4)

Diturunkan oleh pete pete tepat di ujung jalan. langsung menghadap laut. tinggal turun tangga dan menuju ke pantai bira yang putih. Tapi saya ingin mencari penginapan dulu. dan disini berjejer rumah rumah yang dijadikan penginapan. sangat banyak. Saya tertarik memasuki salah satu rumah yang menjadi operator dive disitu. Ternyata itulah satu satunya operator dive di tanjung bira.Untuk info lengkap bisa juga mengunjungi websitenya di www.biradivers.com atau www.biradivecamp.com

Setelah bertanya tanya tentang harga dive, saya pun bertanya tentang penginapan yang murah didaerah sini. Sebenarnya secara umum, penginapan disini murah. mulai dari 100 ribu sampai 200 ribu. Untuk penginapan yang menghadap laut mulai dari 100 ribu. Namun saya coba untuk mencari yang termurah. Saya tanya apakah ada yang dibawah 100 ribu? Sambil tertawa dia berkata, 100 ribu sudah yang paling murah, tapi coba ke penginapan Riswan Guest House, mungkin bisa.
Dan saya pergi ke penginapan Riswan Guest House, dan ternyata si ibu memberikan saya tarif rp80 ribu untuk satu malam (tanpa AC, hanya kipas angin dan kamar mandi didalam). Namun si Ibu memberi pesan bahwa sebenarnya tarifnya 100 ribu, jadi mohon dishare ke teman teman yang lain penginapan Riswan Guest House sebagai imbal baliknya. Beres bu... Akhirnya saya menginap di penginapan tersebut berjarak sekitar 50 meter dari pantai. Langsung saya mandi setelah tidak mandi dua hari. kemudian beristirahat sebentar untuk bersiap siap menikmati senja di pantai bira.

Ini papan penginapan riswan yang saya catat:

RISWAN GUEST HOUSE (Penginapan)
Good Value Accomodation
Rooms with Fan or AC
Meals available - free tea and coffee
HP: 081346434425
HP2: 085258032444

Satu lagi keunggulan penginapan Riswan, mereka memiliki peta tentang lokasi Bira yang didesain sendiri. Kita bisa memintanya. Map ini cukup membantu untuk mengetahui lokasi menarik yang ada di area ini.
Sekitar jam 5 sore, saya keluar penginapan untuk menikmati senja dan berjalan jalan di pantai. Matahari terbenam sekitar jam setengah enam sore. Betapa indahnya sore itu. Sangat romantis. Pasirnya pun putih dan halus seperti tepung. Air lautnya juga agak surut. Benar benar pemandangan yang sangat menyejukkan.
Setelah itu saya bergegas untuk mencari makan malam di arena penginapan. Di kompleks bira ini, bila dilihat sekilas hanya sedikit rumah makan, namun sebenarnya hampir semua guest house memiliki restoran untuk tempat makan termasuk tempat saya menginap. Informasi yang saya dapat di Salassa guest house merupakan tempat makan yang enak, tapi sebenarnya banyak juga tempat makan yang enak didominasi oleh makanan laut.
Senja di Pantai Bira
Setelah itu saya kembali ke penginapan. Sebenarnya saya ingin diving di Bira, namun karena sendiri, merasa kurang nyaman sehingga saya memutuskan hanya snorkeling saja. Riswan Guest House memiliki segalanya kecuali operator dive. Beliau memiliki kapal dan juga banana boat. Saya mendapat harga murah dua ratus ribu rupiah untuk snorkeling besok sekaligus jalan ke Pulau Liukang Loe. Biasanya beliau membandrol harga dua ratus lima puluh ribu. Saya juga menyewa peralatan mask dan snorkeling sebesar 25 ribu ke mas Riswan.
Keesokan harinya sekitar pukul setengah delapan pagi, kami pun berangkat. Ada dua titik yang menjadi area snorkeling saya. Sayang memang saya tidak membawa kamera underwater, tapi tak masalah yang penting kenikmatannya..hehehe.... Sangat indah, berbagai batu karang dan ikan ikan seperti ikan nemo sangat banyak di area ini. Setelah capek snorkeling, saya dibawa ke Pulau Liukang Loe yang sebenarnya terlihat di kejauhan bila dari Pantai Bira. Di pulau ini ada juga beberapa penginapan. Saya beristirahat di salah satu pondok. Pantai disini juga sama indahnya, pasirnya juga halus. Tempatnya juga masih sepi. Serasa pulau pribadi. Setelah puas, kami pun kembali ke Pantai Bira. Kemudian saya bersiap untuk check out dari hotel. 
Pantai Bira


Pulau Liukang Loe
Tepat jam 12 siang saya keluar dari penginapan Riswan Guest House. Si ibu kembali mengingatkan untuk jangan lupa mempromosikan penginapannya ke teman teman. Beres Bu..hehehe....
Sebenarnya pete pete masuk ke dalam area penginapan Bira, tapi saya sengaja ingin jalan kaki. Walau panas dan memanggul tas, tapi saya ingin lebih puas melihat kondisi daerah sini. Sehingga saya jalan sepanjang 500 meter menuju pelabuhan Bira. Rencana saya disitu saja mengambil pete pete. Ternyata di pelabuhan ada sebuah rumah makan. Akhirnya saya makan dulu. Yang unik adalah, ketika saya memesan ikan goreng, saya diajak ke dapurnya untuk memilih ikan yang mana yang mau digoreng. Semuanya segar segar. Saya asal pilih saja. Dan memang benar benar enak. Ikannya segar sehingga rasanya maknyuss...

Dari pelabuhan Bira ini, ada kapal yang rutin ke Pulau Selayar. Dan satu lagi adalah ada kapal seminggu sekali menuju Labuan Bajo. kalau dari Labuan Bajo ke Bira setiap hari Selasa, sementara kalau dair Bira ke Labuan Bajo setiap hari Senin. Tapi ada yang bilang juga hari minggu malam. Lebih baik tanyakan orang sekitar saja jadwal pastinya. Di pelabuhan ini ada ATM BNI yang menjadi satu satunya atm di daerah ini. Kondisi pelabuhan Bira tidak ramai. Namun keindahan lautnya membuat mata ingin selalu memandangnya. Daerah ini memang benar benar masih bersih.

Setelah itu selesai, saya naik pete pete menuju Bulukumba. Bila pete petenya langsung ke terminal Bulukumba, maka ongkosnya 12 ribu. Namun terkadang, pete petenya hanya sampai Tanah Beru, dan dari Tanah Beru nyambung ke Bulukumba. Bila demikian ongkos ke Tanah Beru 5 ribu dan dari Tanah Beru ke Bulukumba 7 ribu.
Saya memang sengaja berhenti di Tanah Beru karena ingin melihat lokasi pembuatan Perahu Pinisi. Inilah kampung spesialis pembuat perahu Pinisi sejak jaman dahulu. Saya bertanya ke supir pete pete kemana arah jalan kaki menuju kampung tersebut. Ternyata lokasinya juga di tepi pantai yang indah. Namun pantainya tidak terlalu bersih karena banyak benda bekas pembangunan kapal. Disini kita bisa lihat berjejer pembuatan kapal pinisi.
Oh iya, di tanah beru ini sudah ada satu minimarket Indomaret.
Setelah selesai, saya melanjutkan perjalanan ke terminal Bulukumba.
Tanah Beru

Beruntungnya saya di terminal Bulukumba langsung dapat mobil panther ke Makassar dan langsung berangkat. Namun di tengah perjalanan, banyak penumpang dan sepertinya sudahjadi kebiasaan bahwa penumpang akan dipaksa berdesakan di dalam. Saya yang duduk paling depan saja sempat sekitar satu jam berbagi tempat duduk dengan penumpang lain.
Namun yang membuat saya agak terkejut, sampai di Makassar ongkos saya hanya dikenakan 35 ribu rupiah. Wah beda jauh dengan ketika saya berangkat. Memang belum ada standar yang pasti dalam ongkos transportasi dari Makassar ke Bira ini.

Saya turun di pemberhentian terakhir di Terminal Mellengkeri di Makassar sekitar jam 7 malam. Dari situ dengan bantuan supir mobil panther tadi, saya naik pete pete menuju ke Losari. Ongkosnya tiga ribu rupiah. Di Losari saya makan malam di warung tenda yang banyak berjejer disana. Tersedia banyak makanan laut. Tapi harganya agak mahal, mungkin karena bawaan dari Bira yang harganya lebih murah..hehehe...
Setelah itu saya ke jalan Somba Opu menuju toko souvenir yang bernama TORAJA. Toko ini menyediakan souvenir yang lumayan lengkap, dari makanan sampai pernak pernik, seperti tas atau kain, dan juga minyak angin khas sulawesi selatan. Saya bertanya kepada ibu pemilik toko tersebut bagaimana caranya ke bandara Hasanuddin dengan tidak menggunakan taksi. Karena kalau menggunakan taksi pasti mahal, soalnya jauh ke kabupaten Maros.
Karena sudah jam 9 an malam, damri sudah tidak ada lagi. Sebenarnya Damri lewat daerah situ, di lapangan karebosi atau ada singgah di hotel daerah situ. Kemudian saya diajari untuk menggunakan pete pete. Namun harus ganti pete pete. Pertama saya naik pete pete dari jalan somba opu tersebut ke mall yang tidak berapa jauh dari situ (sudah lupa namanya), bayar ongkos dua ribu. Setelah itu mengambil pete pete lagi untuk menuju ke bandara, saya bayar ongkos lima ribu karena pada saat itu hanya tinggal saya penumpangnya. Sampai di bandara, saya menggunakan jasa ojek dan ongkosnya berhasil saya tawar menjadi 12 ribu.
Sampai di gedung bandara, saya awalnya agak heran, wah banyak sekali calon penumpang yang sedang duduk duduk di lokasi air mancur ini. Ternyata mereka hanyalah masyarakat yang memang sengaja datang kesitu untuk menghabiskan malam di air mancur dan depan gedung bandara yang mega itu. Wah sepertinya perlu dibangun sarana hiburan buat masyarakat sekitar.
Bandara Sultan Hasanuddin
Setelah makan dan membersihkan diri, waktu masih menunjukkan jam 11 malam di bandara. Sementara pesawat saya jam 2.30 pagi dinihari. Saya pun tidur di bandara bersama penumpang lain. Sepertinya saat ini Citilink tidak ada lagi penerbangan makassar jakarta untuk jam segitu. penumpangnya memang tidak banyak.
Akhirnya saya tiba di Jakarta jam setengah enam pagi, dan berakhirlah perjalanan saya dari hari Selasa pagi sampai Sabtu pagi tiba di Jakarta. Perjalanan ini sangat menyenangkan.

Sunday, June 2, 2013

Perjalanan ke Makassar (TN Bantimurung, Losari dan sekitarnya), Tana Toraja, dan Tanjung Bira (3)

Kamis jam 05.30 pagi, bus Bintang Prima dari Toraja yang kutumpangi tiba di pool bus Bintang Prima di Makassar. Pool bus ini berada di jalan urip sumoharjo, tepat di depan kantor gubernur sulawesi selatan.
Tujuanku adalah ke Pantai Losari. Sudah ada pete-pete yang lalu lalang. Dari urip sumoharjo ke pantai losari tidak terlalu jauh. sekitar 5-6 km. Bisa naik pete - pete yang lewat dari jalan tersebut, atau juga naik taksi. Tapi hati hati dalam menawar naik taksi. Karena kalau pake argo sebenarnya hanya sekitar 15 ribu saja.

Saya sampai di pantai Losari sekitar jam 6 pagi. Ada beberapa orang yang berolahraga. Beruntung saya bisa menikmati damainya pagi di pantai Losari. Saya duduk di bangku yang banyak di pantai losari sarapan dengan apa yang saya miliki sambil menikmati munculnya matahari, Cukup nikmat apalagi kondisi tidak ramai. Sayang ketika saya ke kamar mandi disitu, kondisinya tidak bisa dikatakan baik. Sekedarnya saja walaupun bayar. Sebenarnya saya berniat untuk mandi, jadinya hanya gosok gigi dan cuci muka saja.

Setelah puas menikmati pantai, saya menyusuri tepi pantai, atau jalan somba opu, untuk menuju benteng Fort Rotterdam. Jaraknya sekitar 1 km kalau jalan kaki. Bisa juga naik pete pete bayar ongkos seribu rupiah atau becak yang banyak mangkal di losari.
Di jalan somba opu banyak tempat makan atau jual cenderamata dan oleh oleh. Tapi niat saya untuk membeli, ditahan dulu, karena saya masih mau pergi ke Tanjung Bira.
Pantai Losari

Benteng Fort Rotterdam kondisinya bagus dan terawat. Jika naik ke salah satu sudutnya, memang terlihat Laut Makassar. Benteng ini memang strategis. Di dalam benteng ini banyak bangunan bangunan dengan arsitektur Belanda, dan di salah satu gedung terdapat juga museum. Sebenarnya masuk ke benteng ini gratis, namun ketika kita mencatatkan nama di buku pengunjung, petugas meminta uang seikhlasnya. Saya beri saja lima ribu rupiah.
Benteng Fort Rotterdam

Setelah puas melihat lihat dan beristirahat di Benteng Fort Rotterdam, saya berniat untuk ke Benteng Somba Opu. Saya penasaran karena menurut sejarah inilah benteng tertua yang ada di Makassar.
Saya bertanya kepada petugas di benteng Fort Rotterdam bagaimana cara untuk ke benteng somba opu.
Dari gerbang benteng fort rotterdam, berjalan sekitar 200 meter ke kanan menuju bundaran, dan kita menunggu pete pete yang keluar dari perempatan jalan sulawesi. Nanti pete pete ini berhenti di cendrawasih, bayar ongkos dua ribu rupiah. Dari cendrawasih ini ambil pete pete yang tujuannya ke terminal Malengkeri. Katakan saja kepada sopirnya agar diturunkan di persimpangan jalan menuju benteng somba opu, dan ongkosnya tiga ribu rupiah. Namun saya pada saat itu, ketika sampai di cendrawasih, supirnya bertanya hendak kemana, dan beliau mau mengantarkan sampai ke persimpangan menuju benteng somba opu namun ongkosnya ditambah menjadi lima ribu rupiah. Lumayan... jadi lebih mudah.

Setelah diturunkan dari pete pete, kita harus berjalan lagi sekitar 1 km untuk menuju lokasi benteng somba opu. Saya mencoba naik becak yang banyak mangkal disitu. ongkosnya 10 ribu. Ternyata kompleks benteng somba opu sangat besar. Dari gerbangnya sampai ke bentengnya yang lokasinya paling ujung mungkin ada 1 km. Saya diantar ke lokasi bentengnya. Dan ternyata, sangat jauh seperti benteng Fort Rotterdam. Benteng ini hanya terdiri dari sekumpulan tembok batu setinggi 2 meter yang panjangnya mungkin sekitar 5 - 10 meter. Ternyata benteng ini dulunya diduga berbentuk segi empat mengelilingi area sebesar 1500 hektar. Panjang temboknya sampai 2 km. Namun sempat dihancurkan Belanda dan kemudian terendam air laut. Nah, di area ini banyak dibangun rumah rumah adat dari berbagai suku yang ada di sulawesi selatan. Terdapat juga museum yang bernama museum Karaeng Patingalloang yang berisi barang barang yang ditemukan ketika proses penggalian benteng ini. Ada uang, jenis bebatuan, meriam, dan lainnya. yang menarik dari museum ini, terdapat gambar perkiraan dari benteng ini, namun gambarnya terdapat di langit langit museum, dan kita melihatnya dari cermin yang terdapat di bawah. Biaya masuk museum sebesar lima ribu, untuk ke kompleksnya gratis.
Sisa peninggalan Benteng Somba Opu

Museum dan Rumah adat di Kompleks benteng Somba Opu

Masih terus dilakukan penggalian dan penelitian terhadap benteng ini. Banyak mahasiswa yang belajar di benteng ini, mungkin mereka mahasiswa sejarah atau arkeologi. Dulunya tinggi tembok tembok tersebut sekitar 7 meter, namun karena sedimentasi dan tidak ditempati selama ratusan tahun, jadinya tertimbun tanah. Inilah sisa dari kerajaan Gowa dan sekarang lokasi benteng ini berada di kabupaten gowa. Setelah saya rasa cukup, saya kembali ke persimpangan jalan tempat melintasnya pete pete. Cukup melelahkan berjalan di terik matahari sekitar 1 km lebih. Karena saya ingin ke Tanjung Bira, maka tujuan saya adalah ke Terminal Malengkeri. Beruntungnya, dari persimpangan jalan benteng somba opu ke Terminal Malengkeri tidak terlalu jauh. Sekitar 20 - 30 menit naik pete pete. Ongkosnya sekitar 2 ribu atau 3 ribu tergantung supirnya :)

Sampai di Terminal Malengkeri, saya langsung mencari kendaraan yang menuju Tanjung Bira atau Bulukumba. Transportasi disana menggunakan kendaraan Kijang atau Panther. Beruntungnya saya setelah saya masuk, mobil langsung berangkat. Karena memang supirnya baru mulai jalan kalau sudah ada penumpang minimal 3 orang. Namun yang kurang enak adalah ongkosnya. Selama di perjalanan masih di kota makassar, banyak penumpang masuk, namun rata rata ke Bulukumba. Hanya saya dan seorang yang lain ke Tanjung Bira sehingga supir hanya ingin ke Tanjung Bira. Persetujuan awal, ke Bulukumba ongkosnya 35 ribu sementara ke Tanjung Bira 50 ribu. Namun karena kami hanya berdua ke Tanjung Bira, supir minta 70 ribu untuk kami berdua. Sebenarnya saya ingin turun  di Bulukumba saja. Namun karena seorang lagi perempuan dan membawa banyak barang (sepertinya dia berdagang di Tanjung Bira), dia pinginnya langsung ke Tanjung Bira. Yah... apa boleh buat, saya mengalah sajalah... ongkos saya jadinya 70 ribu. Tapi dengan bantuan pak supir, ketika memasuki kompleks Pantai Tanjung Bira, saya tidak dikenakan biaya turis..hehehe....
saya lihat, untuk turis domestik dikenakan biaya administrasi 10 ribu rupiah.. Ya, dianggap impas sajalah.

Sebenarnya bila kita dari Terminal Bulukumba menuju Tanjung Bira tidak sulit. Dari terminal Bulukumba, tinggal naik pete pete jurusan Tanjung Bira, ongkosnya 12 ribu. Atau bisa juga dari Terminal Malengkeri mengambil bus yang menuju Pulau Selayar. Nanti kita turun di pelabuhan Tanjung bira (jangan sampai ikutan menyeberang :)). Dari pelabuhan Tanjung Bira, ke pantainya dan penginapannya tinggal berjalan 500 meter, atau naik pete pete bayar seribu rupiah.
Perjalanan dari Makassar ke Tanjung Bira memakan waktu sekitar 5-6 jam. Sebenarnya jaraknya 200 km. Namun di tengah perjalanan ada bagian jalan yang rusak, ada juga melewati kota yang cukup ramai, sehingga memakan waktu lebih.

bersambung...