Wednesday, June 19, 2013

Perjalanan ke Makassar (TN Bantimurung, Losari dan sekitarnya), Tana Toraja, dan Tanjung Bira (4)

Diturunkan oleh pete pete tepat di ujung jalan. langsung menghadap laut. tinggal turun tangga dan menuju ke pantai bira yang putih. Tapi saya ingin mencari penginapan dulu. dan disini berjejer rumah rumah yang dijadikan penginapan. sangat banyak. Saya tertarik memasuki salah satu rumah yang menjadi operator dive disitu. Ternyata itulah satu satunya operator dive di tanjung bira.Untuk info lengkap bisa juga mengunjungi websitenya di www.biradivers.com atau www.biradivecamp.com

Setelah bertanya tanya tentang harga dive, saya pun bertanya tentang penginapan yang murah didaerah sini. Sebenarnya secara umum, penginapan disini murah. mulai dari 100 ribu sampai 200 ribu. Untuk penginapan yang menghadap laut mulai dari 100 ribu. Namun saya coba untuk mencari yang termurah. Saya tanya apakah ada yang dibawah 100 ribu? Sambil tertawa dia berkata, 100 ribu sudah yang paling murah, tapi coba ke penginapan Riswan Guest House, mungkin bisa.
Dan saya pergi ke penginapan Riswan Guest House, dan ternyata si ibu memberikan saya tarif rp80 ribu untuk satu malam (tanpa AC, hanya kipas angin dan kamar mandi didalam). Namun si Ibu memberi pesan bahwa sebenarnya tarifnya 100 ribu, jadi mohon dishare ke teman teman yang lain penginapan Riswan Guest House sebagai imbal baliknya. Beres bu... Akhirnya saya menginap di penginapan tersebut berjarak sekitar 50 meter dari pantai. Langsung saya mandi setelah tidak mandi dua hari. kemudian beristirahat sebentar untuk bersiap siap menikmati senja di pantai bira.

Ini papan penginapan riswan yang saya catat:

RISWAN GUEST HOUSE (Penginapan)
Good Value Accomodation
Rooms with Fan or AC
Meals available - free tea and coffee
HP: 081346434425
HP2: 085258032444

Satu lagi keunggulan penginapan Riswan, mereka memiliki peta tentang lokasi Bira yang didesain sendiri. Kita bisa memintanya. Map ini cukup membantu untuk mengetahui lokasi menarik yang ada di area ini.
Sekitar jam 5 sore, saya keluar penginapan untuk menikmati senja dan berjalan jalan di pantai. Matahari terbenam sekitar jam setengah enam sore. Betapa indahnya sore itu. Sangat romantis. Pasirnya pun putih dan halus seperti tepung. Air lautnya juga agak surut. Benar benar pemandangan yang sangat menyejukkan.
Setelah itu saya bergegas untuk mencari makan malam di arena penginapan. Di kompleks bira ini, bila dilihat sekilas hanya sedikit rumah makan, namun sebenarnya hampir semua guest house memiliki restoran untuk tempat makan termasuk tempat saya menginap. Informasi yang saya dapat di Salassa guest house merupakan tempat makan yang enak, tapi sebenarnya banyak juga tempat makan yang enak didominasi oleh makanan laut.
Senja di Pantai Bira
Setelah itu saya kembali ke penginapan. Sebenarnya saya ingin diving di Bira, namun karena sendiri, merasa kurang nyaman sehingga saya memutuskan hanya snorkeling saja. Riswan Guest House memiliki segalanya kecuali operator dive. Beliau memiliki kapal dan juga banana boat. Saya mendapat harga murah dua ratus ribu rupiah untuk snorkeling besok sekaligus jalan ke Pulau Liukang Loe. Biasanya beliau membandrol harga dua ratus lima puluh ribu. Saya juga menyewa peralatan mask dan snorkeling sebesar 25 ribu ke mas Riswan.
Keesokan harinya sekitar pukul setengah delapan pagi, kami pun berangkat. Ada dua titik yang menjadi area snorkeling saya. Sayang memang saya tidak membawa kamera underwater, tapi tak masalah yang penting kenikmatannya..hehehe.... Sangat indah, berbagai batu karang dan ikan ikan seperti ikan nemo sangat banyak di area ini. Setelah capek snorkeling, saya dibawa ke Pulau Liukang Loe yang sebenarnya terlihat di kejauhan bila dari Pantai Bira. Di pulau ini ada juga beberapa penginapan. Saya beristirahat di salah satu pondok. Pantai disini juga sama indahnya, pasirnya juga halus. Tempatnya juga masih sepi. Serasa pulau pribadi. Setelah puas, kami pun kembali ke Pantai Bira. Kemudian saya bersiap untuk check out dari hotel. 
Pantai Bira


Pulau Liukang Loe
Tepat jam 12 siang saya keluar dari penginapan Riswan Guest House. Si ibu kembali mengingatkan untuk jangan lupa mempromosikan penginapannya ke teman teman. Beres Bu..hehehe....
Sebenarnya pete pete masuk ke dalam area penginapan Bira, tapi saya sengaja ingin jalan kaki. Walau panas dan memanggul tas, tapi saya ingin lebih puas melihat kondisi daerah sini. Sehingga saya jalan sepanjang 500 meter menuju pelabuhan Bira. Rencana saya disitu saja mengambil pete pete. Ternyata di pelabuhan ada sebuah rumah makan. Akhirnya saya makan dulu. Yang unik adalah, ketika saya memesan ikan goreng, saya diajak ke dapurnya untuk memilih ikan yang mana yang mau digoreng. Semuanya segar segar. Saya asal pilih saja. Dan memang benar benar enak. Ikannya segar sehingga rasanya maknyuss...

Dari pelabuhan Bira ini, ada kapal yang rutin ke Pulau Selayar. Dan satu lagi adalah ada kapal seminggu sekali menuju Labuan Bajo. kalau dari Labuan Bajo ke Bira setiap hari Selasa, sementara kalau dair Bira ke Labuan Bajo setiap hari Senin. Tapi ada yang bilang juga hari minggu malam. Lebih baik tanyakan orang sekitar saja jadwal pastinya. Di pelabuhan ini ada ATM BNI yang menjadi satu satunya atm di daerah ini. Kondisi pelabuhan Bira tidak ramai. Namun keindahan lautnya membuat mata ingin selalu memandangnya. Daerah ini memang benar benar masih bersih.

Setelah itu selesai, saya naik pete pete menuju Bulukumba. Bila pete petenya langsung ke terminal Bulukumba, maka ongkosnya 12 ribu. Namun terkadang, pete petenya hanya sampai Tanah Beru, dan dari Tanah Beru nyambung ke Bulukumba. Bila demikian ongkos ke Tanah Beru 5 ribu dan dari Tanah Beru ke Bulukumba 7 ribu.
Saya memang sengaja berhenti di Tanah Beru karena ingin melihat lokasi pembuatan Perahu Pinisi. Inilah kampung spesialis pembuat perahu Pinisi sejak jaman dahulu. Saya bertanya ke supir pete pete kemana arah jalan kaki menuju kampung tersebut. Ternyata lokasinya juga di tepi pantai yang indah. Namun pantainya tidak terlalu bersih karena banyak benda bekas pembangunan kapal. Disini kita bisa lihat berjejer pembuatan kapal pinisi.
Oh iya, di tanah beru ini sudah ada satu minimarket Indomaret.
Setelah selesai, saya melanjutkan perjalanan ke terminal Bulukumba.
Tanah Beru

Beruntungnya saya di terminal Bulukumba langsung dapat mobil panther ke Makassar dan langsung berangkat. Namun di tengah perjalanan, banyak penumpang dan sepertinya sudahjadi kebiasaan bahwa penumpang akan dipaksa berdesakan di dalam. Saya yang duduk paling depan saja sempat sekitar satu jam berbagi tempat duduk dengan penumpang lain.
Namun yang membuat saya agak terkejut, sampai di Makassar ongkos saya hanya dikenakan 35 ribu rupiah. Wah beda jauh dengan ketika saya berangkat. Memang belum ada standar yang pasti dalam ongkos transportasi dari Makassar ke Bira ini.

Saya turun di pemberhentian terakhir di Terminal Mellengkeri di Makassar sekitar jam 7 malam. Dari situ dengan bantuan supir mobil panther tadi, saya naik pete pete menuju ke Losari. Ongkosnya tiga ribu rupiah. Di Losari saya makan malam di warung tenda yang banyak berjejer disana. Tersedia banyak makanan laut. Tapi harganya agak mahal, mungkin karena bawaan dari Bira yang harganya lebih murah..hehehe...
Setelah itu saya ke jalan Somba Opu menuju toko souvenir yang bernama TORAJA. Toko ini menyediakan souvenir yang lumayan lengkap, dari makanan sampai pernak pernik, seperti tas atau kain, dan juga minyak angin khas sulawesi selatan. Saya bertanya kepada ibu pemilik toko tersebut bagaimana caranya ke bandara Hasanuddin dengan tidak menggunakan taksi. Karena kalau menggunakan taksi pasti mahal, soalnya jauh ke kabupaten Maros.
Karena sudah jam 9 an malam, damri sudah tidak ada lagi. Sebenarnya Damri lewat daerah situ, di lapangan karebosi atau ada singgah di hotel daerah situ. Kemudian saya diajari untuk menggunakan pete pete. Namun harus ganti pete pete. Pertama saya naik pete pete dari jalan somba opu tersebut ke mall yang tidak berapa jauh dari situ (sudah lupa namanya), bayar ongkos dua ribu. Setelah itu mengambil pete pete lagi untuk menuju ke bandara, saya bayar ongkos lima ribu karena pada saat itu hanya tinggal saya penumpangnya. Sampai di bandara, saya menggunakan jasa ojek dan ongkosnya berhasil saya tawar menjadi 12 ribu.
Sampai di gedung bandara, saya awalnya agak heran, wah banyak sekali calon penumpang yang sedang duduk duduk di lokasi air mancur ini. Ternyata mereka hanyalah masyarakat yang memang sengaja datang kesitu untuk menghabiskan malam di air mancur dan depan gedung bandara yang mega itu. Wah sepertinya perlu dibangun sarana hiburan buat masyarakat sekitar.
Bandara Sultan Hasanuddin
Setelah makan dan membersihkan diri, waktu masih menunjukkan jam 11 malam di bandara. Sementara pesawat saya jam 2.30 pagi dinihari. Saya pun tidur di bandara bersama penumpang lain. Sepertinya saat ini Citilink tidak ada lagi penerbangan makassar jakarta untuk jam segitu. penumpangnya memang tidak banyak.
Akhirnya saya tiba di Jakarta jam setengah enam pagi, dan berakhirlah perjalanan saya dari hari Selasa pagi sampai Sabtu pagi tiba di Jakarta. Perjalanan ini sangat menyenangkan.

Sunday, June 2, 2013

Perjalanan ke Makassar (TN Bantimurung, Losari dan sekitarnya), Tana Toraja, dan Tanjung Bira (3)

Kamis jam 05.30 pagi, bus Bintang Prima dari Toraja yang kutumpangi tiba di pool bus Bintang Prima di Makassar. Pool bus ini berada di jalan urip sumoharjo, tepat di depan kantor gubernur sulawesi selatan.
Tujuanku adalah ke Pantai Losari. Sudah ada pete-pete yang lalu lalang. Dari urip sumoharjo ke pantai losari tidak terlalu jauh. sekitar 5-6 km. Bisa naik pete - pete yang lewat dari jalan tersebut, atau juga naik taksi. Tapi hati hati dalam menawar naik taksi. Karena kalau pake argo sebenarnya hanya sekitar 15 ribu saja.

Saya sampai di pantai Losari sekitar jam 6 pagi. Ada beberapa orang yang berolahraga. Beruntung saya bisa menikmati damainya pagi di pantai Losari. Saya duduk di bangku yang banyak di pantai losari sarapan dengan apa yang saya miliki sambil menikmati munculnya matahari, Cukup nikmat apalagi kondisi tidak ramai. Sayang ketika saya ke kamar mandi disitu, kondisinya tidak bisa dikatakan baik. Sekedarnya saja walaupun bayar. Sebenarnya saya berniat untuk mandi, jadinya hanya gosok gigi dan cuci muka saja.

Setelah puas menikmati pantai, saya menyusuri tepi pantai, atau jalan somba opu, untuk menuju benteng Fort Rotterdam. Jaraknya sekitar 1 km kalau jalan kaki. Bisa juga naik pete pete bayar ongkos seribu rupiah atau becak yang banyak mangkal di losari.
Di jalan somba opu banyak tempat makan atau jual cenderamata dan oleh oleh. Tapi niat saya untuk membeli, ditahan dulu, karena saya masih mau pergi ke Tanjung Bira.
Pantai Losari

Benteng Fort Rotterdam kondisinya bagus dan terawat. Jika naik ke salah satu sudutnya, memang terlihat Laut Makassar. Benteng ini memang strategis. Di dalam benteng ini banyak bangunan bangunan dengan arsitektur Belanda, dan di salah satu gedung terdapat juga museum. Sebenarnya masuk ke benteng ini gratis, namun ketika kita mencatatkan nama di buku pengunjung, petugas meminta uang seikhlasnya. Saya beri saja lima ribu rupiah.
Benteng Fort Rotterdam

Setelah puas melihat lihat dan beristirahat di Benteng Fort Rotterdam, saya berniat untuk ke Benteng Somba Opu. Saya penasaran karena menurut sejarah inilah benteng tertua yang ada di Makassar.
Saya bertanya kepada petugas di benteng Fort Rotterdam bagaimana cara untuk ke benteng somba opu.
Dari gerbang benteng fort rotterdam, berjalan sekitar 200 meter ke kanan menuju bundaran, dan kita menunggu pete pete yang keluar dari perempatan jalan sulawesi. Nanti pete pete ini berhenti di cendrawasih, bayar ongkos dua ribu rupiah. Dari cendrawasih ini ambil pete pete yang tujuannya ke terminal Malengkeri. Katakan saja kepada sopirnya agar diturunkan di persimpangan jalan menuju benteng somba opu, dan ongkosnya tiga ribu rupiah. Namun saya pada saat itu, ketika sampai di cendrawasih, supirnya bertanya hendak kemana, dan beliau mau mengantarkan sampai ke persimpangan menuju benteng somba opu namun ongkosnya ditambah menjadi lima ribu rupiah. Lumayan... jadi lebih mudah.

Setelah diturunkan dari pete pete, kita harus berjalan lagi sekitar 1 km untuk menuju lokasi benteng somba opu. Saya mencoba naik becak yang banyak mangkal disitu. ongkosnya 10 ribu. Ternyata kompleks benteng somba opu sangat besar. Dari gerbangnya sampai ke bentengnya yang lokasinya paling ujung mungkin ada 1 km. Saya diantar ke lokasi bentengnya. Dan ternyata, sangat jauh seperti benteng Fort Rotterdam. Benteng ini hanya terdiri dari sekumpulan tembok batu setinggi 2 meter yang panjangnya mungkin sekitar 5 - 10 meter. Ternyata benteng ini dulunya diduga berbentuk segi empat mengelilingi area sebesar 1500 hektar. Panjang temboknya sampai 2 km. Namun sempat dihancurkan Belanda dan kemudian terendam air laut. Nah, di area ini banyak dibangun rumah rumah adat dari berbagai suku yang ada di sulawesi selatan. Terdapat juga museum yang bernama museum Karaeng Patingalloang yang berisi barang barang yang ditemukan ketika proses penggalian benteng ini. Ada uang, jenis bebatuan, meriam, dan lainnya. yang menarik dari museum ini, terdapat gambar perkiraan dari benteng ini, namun gambarnya terdapat di langit langit museum, dan kita melihatnya dari cermin yang terdapat di bawah. Biaya masuk museum sebesar lima ribu, untuk ke kompleksnya gratis.
Sisa peninggalan Benteng Somba Opu

Museum dan Rumah adat di Kompleks benteng Somba Opu

Masih terus dilakukan penggalian dan penelitian terhadap benteng ini. Banyak mahasiswa yang belajar di benteng ini, mungkin mereka mahasiswa sejarah atau arkeologi. Dulunya tinggi tembok tembok tersebut sekitar 7 meter, namun karena sedimentasi dan tidak ditempati selama ratusan tahun, jadinya tertimbun tanah. Inilah sisa dari kerajaan Gowa dan sekarang lokasi benteng ini berada di kabupaten gowa. Setelah saya rasa cukup, saya kembali ke persimpangan jalan tempat melintasnya pete pete. Cukup melelahkan berjalan di terik matahari sekitar 1 km lebih. Karena saya ingin ke Tanjung Bira, maka tujuan saya adalah ke Terminal Malengkeri. Beruntungnya, dari persimpangan jalan benteng somba opu ke Terminal Malengkeri tidak terlalu jauh. Sekitar 20 - 30 menit naik pete pete. Ongkosnya sekitar 2 ribu atau 3 ribu tergantung supirnya :)

Sampai di Terminal Malengkeri, saya langsung mencari kendaraan yang menuju Tanjung Bira atau Bulukumba. Transportasi disana menggunakan kendaraan Kijang atau Panther. Beruntungnya saya setelah saya masuk, mobil langsung berangkat. Karena memang supirnya baru mulai jalan kalau sudah ada penumpang minimal 3 orang. Namun yang kurang enak adalah ongkosnya. Selama di perjalanan masih di kota makassar, banyak penumpang masuk, namun rata rata ke Bulukumba. Hanya saya dan seorang yang lain ke Tanjung Bira sehingga supir hanya ingin ke Tanjung Bira. Persetujuan awal, ke Bulukumba ongkosnya 35 ribu sementara ke Tanjung Bira 50 ribu. Namun karena kami hanya berdua ke Tanjung Bira, supir minta 70 ribu untuk kami berdua. Sebenarnya saya ingin turun  di Bulukumba saja. Namun karena seorang lagi perempuan dan membawa banyak barang (sepertinya dia berdagang di Tanjung Bira), dia pinginnya langsung ke Tanjung Bira. Yah... apa boleh buat, saya mengalah sajalah... ongkos saya jadinya 70 ribu. Tapi dengan bantuan pak supir, ketika memasuki kompleks Pantai Tanjung Bira, saya tidak dikenakan biaya turis..hehehe....
saya lihat, untuk turis domestik dikenakan biaya administrasi 10 ribu rupiah.. Ya, dianggap impas sajalah.

Sebenarnya bila kita dari Terminal Bulukumba menuju Tanjung Bira tidak sulit. Dari terminal Bulukumba, tinggal naik pete pete jurusan Tanjung Bira, ongkosnya 12 ribu. Atau bisa juga dari Terminal Malengkeri mengambil bus yang menuju Pulau Selayar. Nanti kita turun di pelabuhan Tanjung bira (jangan sampai ikutan menyeberang :)). Dari pelabuhan Tanjung Bira, ke pantainya dan penginapannya tinggal berjalan 500 meter, atau naik pete pete bayar seribu rupiah.
Perjalanan dari Makassar ke Tanjung Bira memakan waktu sekitar 5-6 jam. Sebenarnya jaraknya 200 km. Namun di tengah perjalanan ada bagian jalan yang rusak, ada juga melewati kota yang cukup ramai, sehingga memakan waktu lebih.

bersambung...

Thursday, May 23, 2013

Perjalanan ke Makassar (TN Bantimurung, Losari dan sekitarnya), Tana Toraja, dan Tanjung Bira (2)

Saya turun dari pete pete di jalan perintis kemerdekaan sekitar km 12. Kemudian menyeberang menuju pool bus Bintang Prima. Sebenarnya pool bus ini juga dilewati oleh bus DAMRI dari bandara Sultan Hasanuddin. Tetapi bila ingin langsung dari bandara, pastikan dulu kepada petugas DAMRI nya apakah mau untuk menurunkan penumpang di pool bus Bintang Prima. Harga tiket bus DAMRI nya 20 ribu rupiah.
Sebenarnya ada banyak bus eksekutif menuju Toraja dan daerah lain dari Makassar. Ada Manggala, Pelangi, Litha, Alam Indah, dll. Rata rata jenis bus nya sama dan tarifnya juga mirip.

Bus bintang prima ini juga tidak hanya menuju Toraja. Tapi juga ke Palopo, Mamuju dan lainnya.Mereka memiliki dua jenis bus. Scania atau Air suspension. Tarifnya beda 20 ribu, saya tak tahu apa bedanya, tapi ketika saya tanyakan apa bedanya, pegawainya mengatakan, yang satu mobil import, tapi pelayanannya sama. Semakin tak mengerti. Saya ambil yang paling murah saja 110 ribu. Ternyata benar benar bus eksekutif. Dikasi guling, selimut, sederet hanya dua orang, lebar, dan ada bantalan untuk kaki. Kita benar benar bisa tidur nyenyak di dalam bus.Bus saya berangkat jam 21.30, ada juga bus yang berangkat pagi.. Sebelumnya saya makan dulu disekitar pool yang banyak tersedia rumah makan.
Nah... saya catat nomor telepon pool bintang prima yang tertera di dinding kantornya.
Ticket Bintang Prima dapat dibeli di: Jl. Perintis Kemerdekaan KM.12 (depan linud "ryder 700" - samping plaza kedaung), Tlp: 085242878266 / (0411) 2122232 -disini tempat saya berangkat ke toraja- , ada juga di jl. kijang no.8F (samping SMK 8, sudut jl. batu putih), Tlp: (0411) 879554 / (0411) 3821443, dan satu lagi di Jl. Urip Sumoharjo No. 306 (depan kantor gubernur), Tlp: (0411) 3840277.
Penumpang arah ke Toraja cukup banyak. jadi disarankan booking saja sehari sebelum keberangkatan untuk mencegah tempat duduk habis.
Setelah bus berangkat, ada hal yang cukup aneh saya rasa. Bus ini diharuskan masuk terminal makassar, dan penumpangnya harus turun untuk membayar Rp.500 per orang sebagai retribusi terminal. Setelah itu kita naik bus kembali. Ada ada aja...

Dan akhirnya saya sampai di pool Bintang Prima di Toraja sekitar jam setengah 7 pagi. Nama kota ini Rantepao. Ini salah satu kota turis juga. Sangat banyak turis asing berkeliaran disini. Turun dari bus, sempat bingung sebentar. Pool bus bintang prima sendiri baru buka pukul 8 pagi. Akan banyak tukang ojek menawari jasa untuk mengantar. Tapi tenang tenang saja dulu. Lokasi tempat pemberhentian ini tepat di pusat kota.

Nah, karena ke Toraja adalah wisata budaya, sebaiknya kita menggunakan jasa guide. Jika tidak, maka perjalanan ini seperti wisata kuburan. Tapi kalau misalnya kita tidak ingin menggunakan jasa guide, kita bisa rental sepeda motor di kisaran harga Rp.60 ribu sampai Rp.80 ribu per hari ke tukang ojek yang banyak di jalan tersebut. Sepertinya kita ga akan tersesat bila naik sepeda motor di Toraja. Selain banyak petunjuk jalan, orang orang disana juga ramah untuk sekedar memberitahukan arah jalan. Bila ingin diantarkan oleh ojek tersebut, tinggal ditambahin saja sekitar rp. 100 ribu sampai 120 ribu.
Nah, jika menggunakan jasa guide, biasanya tarifnya sekitar rp.300 ribu untuk satu grup per hari. Biasanya guide ini akan menjelaskan budaya toraja dan latar belakang tempat yang akan dikunjungi. Jika beruntung seperti saya, maka guide akan mengantar kita ke pesta rambu solo (pesta adat orang yang sudah meninggal), yang tidak selalu ada setiap hari. Biasanya guide sudah tau, dimana tempat yang akan diadakan pesta rambu solo.

Ketika saya sedang mencoba mencari sepeda motor, saya didatangi oleh seorang Bapak yang sangat ramah, yaitu Pak Usman. Ternyata Pak Usman adalah guide resmi. Beliau menawarkan jasa menjadi guide sekaligus menggunakan sepeda motornya. Setelah buka harga di rp.300 ribu, akhirnya karena saya seorang diri dan mungkin kasian melihat saya, beliau berkenan untuk menurunkan harga menjadi 200 ribu plus ongkos bensin motor 10 ribu. Tapi beliau berpesan bahwa, biasanya kisaran harga guide adalah rp.250 ribu - rp.300 ribu/ hari.
Saya mengutarakan niat saya ingin ke lokasi wisata yang sudah terkenal seperti kete kesu, lemo, dan londa. Kemudian Bapak tersebut menawarkan agar kami mendatangi pesta rambu solo di salah satu desa. Wah, kebetulan. Beruntung saya, tanggalnya tepat.
Akhirnya Pak Usman sendiri yang mengatur rencana perjalanan saya dari pagi sampai sore di hari tersebut.

Sebelumnya Pak Usman mengantar saya ke restoran di lokasi sekitar yang banyak bule nongkrong disitu. Baiknya, restoran punya kamar mandi yang biasa digunakan untuk pelancong seperti saya untuk membersihkan diri. Terima kasih.hehehe... Saya pun memesan sarapan pisang goreng keju dan kopi Toraja. Satu teko kopi tersebut sekitar 3 gelas saya telan semuanya..hahaha... Setelah sarapan, badan langsung segar kembali. Kayaknya efek dari kopi juga.
sarapan dengan kopi toraja

Perjalanan pertama langsung menuju perkampungan Toraja. Banyak sekali rumah adat toraja yang disebut Tongkonan. Hampir dihalaman rumah penduduk, selalu memiliki Tongkonan. Kami singgah sebentar di lokasi dimana sedang dibangunnya rumah adat dan persiapan menjelang pesta adat Rambu Solo. Pesta adat untuk persiapan penguburan. Jenajahnya sendiri berada di rumah keluarga tersebut. Mereka sudah mempersiapkan acara ini selama 3 bulan. Sudah pasti pesta besar akan terjadi nantinya.
Persiapan pesta rambu solo
Setelah itu kami juga singgah di lokasi dimana di tempat itu sudah beberapa kali diadakan pesta adat oleh keluarga tersebut. Itu ditandai dengan banyaknya tanduk kerbau di Tongkonan mereka. Menurut penjelasan guude saya, orang orang tua Toraja akan sangat senang bila anaknya atau keturunannya menjanjikan bila orang tuanya akan meninggal akan diadakan pesta adat. Hal itu lebih senang didengar oleh orang tua mereka daripada pemberian sebuah mobil. hehehe.. Hal ini dikarenakan ada kebanggaan sebagai orang tua mereka untuk diadati, dan memberi makan orang lain ketika upacara adat tersebut. Selain itu, menurut kepercayaan mereka dulu, upacara adat akan melapangkan jalan mereka menuju dunia akhirat atau surga.
Tongkonan dengan banyak tanduk kerbau
Didaerah ini juga terhampar sawah, dan dikejauhan nampak bukit dan gunung. Terlihat hijau dan udaranya segar. Nyaman sekali. 
Hamparan sawah dan pebukitan di kampung adat Toraja

Kami terus melaju dan akhirnya sampai di lokasi yang disebut Kalimbuang Bori. Di tempat ini banyak sekali tugu batu berdiri. Jadi, setiap mereka melakukan ritual adat penguburan leluhur mereka, selalu ditanam satu tugu batu. Melihat banyaknya tugu batu disini, sudah pasti, ritual ini sudah berjalan ribuan tahun. Selain itu, batu batu besar banyak dipahat dan dilubangi untuk dijadikan tempat masuk peti mati. Mereka memasukkan peti mati ke dalam batu batu besar yang dipahat dan dilubangi. di lokasi ini dikenakan karcis 10 ribu rupiah.
Kalimbuang Bori
Setelah dari sini, kami menuju ke lokasi acara pesta adat Rambu Solo. Pesta adat untuk mengantarkan jenajah ke kuburnya setelah sempat didiamkan beberapa lama di rumah untuk mempersiapkan pesta ini. Ada beberapa bule yang juga merekam acara adat ini. Sangat banyak babi dan kerbau bertebaran di lokasi pesta. Karena memang itu bagian dari upacara adat ini. Peti jenajah diletakkan di keranda khusus yang tinggi sehingga semua orang bisa melihat peti tersebut. Warna baju didominasi warna hitam kecuali pembawa acara berwarna putih. Menurut guide kami, hanya orang tertentu yang bisa jadi pembawa acara dan biasanya kemampuan itu turun temurun. Dan bayaran mereka cukup mahal.
Untuk membuat acara ini, pasti habis 100 juta keatas. Namun bila ada keluarga yang tak mampu membuat pesta, maka tetangga akan mengirimkan babi ataupun kerbau kepada keluarga yang mengadakan pesta, yang penting pesta adat bisa terlaksana. Hal itu nantinya menjadi utang yang dibayarkan bila keluarga yang memberikan babi atau kerbau tersebut akan mengadakan pesta adat dan keluarga yang memiliki utang tersebut sudah mampu untuk membayar. Disinilah letak kearifan lokal tersebut. Tak ada paksaan, yang ada tolong menolong.
Pesta Rambu Solo
Setelah puas melihat acara adat tersebut walau tidak selesai karena selesainya sampai sore, kami pun bergegas. Kami menuju desa Londa.
Di Londa kami tetap menikmati wisata yang bertemakan kuburan.hehehe...
karena Londa memiliki gua dan tebing tebing, seluruh jenazah keluarga disini dimasukkan ke dalam gua dan tebing tebing tersebut. Bahkan ada yang sampai jauh di atas. Banyak juga peti yang sudah lapuk. Biasanya keturunannya akan mengumpulkan kembali tulang belulangnya dan dimasukkan ke dalam peti kembali. Menurut guide kami, itulah sebabnya pemerintah daerah Toraja tidak perlu bingung memikirkan Taman Pemakaman Umum seperti di Jakarta..hahaha....
Banyak tengkorak berserakan. Baik di dalam gua, ataupun di gua di atas tebing. yang menarik, terdapat patung patung kayu yang menggambarkan orang orang yang sudah meninggal tersebut. Budaya yang sangat kreatif. setelah puas melihat lihat, kami pun bergegas dari sini. tiket masuk disini 10 ribu rupiah. cukup banyak juga penjual souvenir disini.
Londa
Pergi dari sini, kami sempat melintasi lokasi pasar yang diadakan setiap enam hari. Hari ini tidak ada pasar. Jika ada, maka ribuan kerbau akan diperdagangkan disini. Termasuk kerbau putih/albino yang harganya bisa mencapai ratusan juta.
Setelah itu kami bergegas ke desa yang bernama Lemo. Tetap dengan melihat budaya pemakaman Toraja. Disini beda lagi. Ada satu Dinding tebing yang cukup luas. Dan mereka memahat tebing tersebut menjadi lubang lubang yang bisa dimasuki peti mati. Nantinya keluarga yang meninggal dimasukkan ke dalam lubang lubang tersebut. Sangat hebat. Tentunya sangat mengasyikkan bila kita memiliki kesempatan menyaksikan acara pemasukan jenazah ke dalam lubang tersebut. Di daerah ini juga terlihat hamparan sawah dan bukit bukit. Sangat indah. Tiket masuk disini 10 ribu rupiah. Disini juga banyak penjual souvenir. Dari penjual kaos, kemeja, kain khas Toraja, pahatan benda benda kayu sampai pemahat patung manusia dari kayu. Saya membeli sebuah kaos.
Lemo
Karena kami sedikit lelah dan saya ingin membeli tenunan kain khas Toraja, guide saya Pak Usman membawa saya ke tempat temannya. Namanya Traditional Weaving Shop, toko tenun tradisional. lokasinya di dekat pusat kota di dekat lokasi gereja Toraja. Beruntung saya, karena bisa meminjam kamar mandinya untuk membersihkan diri dan b-a-b, hehehe... Kami juga diberikan minum teh manis.... Saya disini membeli tenunan khas Toraja, dan melihat banyaknya kain tenun yang indah indah. Yang harganya jutaan juga ada. wahh... Setelah beristirahat dan mengobrol banyak dengan pemilik dan guide saya, kami pun beranjak pergi ke lokasi yang paling terkenal itu yang bernama Kete Kesu.
Traditional weaving shop
Nama kete kesu adalah nama dua orang bersaudara yaitu si Kete dan si Kesu. Mereka membuat rumah adat masing masing dan sampai sekarang keturunannya masih memelihara tempat ini.
Disini banyak Tongkonan berderet. Kami juga dipersilahkan masuk ke dalam. Tongkonan terdiri dari 3 ruangan ruangan belakang, tengah dan depan. Jadi, misalnya bila ada orangtua yang sudah meninggal dan belum diadakan pesta adat, maka jenajah tersebut akan diletakkan di ruang belakang. wahhh... tapi dengan menggunakan ramuan ramuan, tidak akan ada bau. Begitu penjelasannya...
Di salah satu Tongkonan juga ada museum nya. Berjalan ke belakang, maka akan ditemukan deretan kuburan para leluhur dan keturunan dari desa ini, berupa kubur yang sudah dibuat sendiri dari batu dan terkesan besar dan mewah. Dan akhirnya ketemu lagi dengan gua gua yang didalamnya banyak diletakkan peti peti mati. Bahkan banyak peti yang sudah hancur dan tulang belulang yang berserakan. Banyak juga patung patung kayu yang diukir menyerupai orang orang yang sudah meninggal tersebut. Memang benar kata Pak Usman guide saya, Toraja tidak membutuhkan banyak lahan pemakaman karena tiap dinasti keluarga tau bagaimana cara mengurus jenazah keluarganya. Karena hujan. kami banyak bercerita panjang lebar dengan Pak Usman di Kete Kesu ini dan membandingkan dengan adat saya sebagai orang Batak. Cukup banyak kemiripan memang. Makanya tadi siang ketika saya dikenalkan Pak Usman ke temannya orang Toraja, beliau mengatakan kepada saya "Solata" yang artinya kita sama atau bisa diartikan kita saudara. Dari rumah adat, penggunaan warna, upacara adat bagaimana menghormati dan menghargai orang tua, ada kemiripan. Pantesan ada yang mengatakan bahwa Batak dan Toraja dikatakan satu garis keturunan walau belum ada bukti yang benar benar jelas.
Kete Kesu
Setelah sore menjelang, kami pun kembali ke pusat kota. Saya mentraktir makan Pak Usman di salah satu rumah makan islam dipusat kota karena Pak Usman beragama Islam. Perjalanan kami pun diakhiri di rumah makan ini. Sebenarnya ada banyak lokasi lain yang bisa dilihat, seperti pemakaman bayi yang ada di pohon, lokasi puncak  batutumonga, dan lain lain. tapi untuk perjalanan satu hari, lokasi diatas plus melihat acara adatnya sudah cukup untuk mengenal budaya Toraja

Ternyata Pak Usman juga guide untuk orang asing. Pak Usman menguasai Bahasa Inggris dan Bahasa Italia dengan sangat baik. Beliau sangat banyak menjelaskan budaya Toraja dari A sampai Z. Sehingga perjalanan kita tidak hanya sekedar melihat lokasi makam, tetapi juga belajar budaya dan latar belakang kehidupan Toraja.  Jika kamu ingin pergi ke Toraja dan membutuhkan guide, hubungi Pak Usman di  085255181617. Beliau juga dapat sekalian mengurus kendaraan ataupun penginapan yang dibutuhkan. Orangnya ramah dan sangat baik. Saya beruntung bertemu dengan beliau.
Menurut info yang saya dapat dari Pak Usman, tanggal 10 Juni 2013 nanti akan ada Pesta Rambu Solo. Hanya guide seperti Pak Usmanlah yang tau dimana lokasinya. Kurang lengkap rasanya memang bila ke Toraja bila tidak melihat acara adat seperti ini.
Pak Usman (+62 852 5518 1617) dan saya
Setelah itu Pak Usman pamit pulang. Saya membeli tiket Bintang Prima kembali ke Makassar yang akan berangkat jam 9 malam. Saya juga ke pasar disekitar situ untuk membeli beberapa makanan khas Tana Toraja. Sebelumnya saya mencicipi bakso babi dan rawon babi di rumah makan yang banyak bertebaran di jalan tersebut. Saya mengamati tugu tongkonan di bundaran jalan tersebut. Entah kenapa saya terkhayal dan merasa kota kecil ini mirip dengan kota kecil di Tapanuli Utara, sumatera utara, yang bernama Tarutung. Udaranya yang sejuk, dan suasananya sangat nyaman bagi saya. Kita memang saudara....

bersambung...
Bundaran Kota Rantepao

If you want to travel to Tana Toraja and need a guide, you can contact Mr. Usman. His phone number is +62 852 5518 1617.
Mr. Usman can speak English and Italian very well.
He will organize your trip plans, it can even take care of your transportation and lodging.
Mr. Usman knows Tana Toraja culture very well and can explain the details to you. He is also one who likes to joke.
Based on His information, Rambu Solo party, traditional party of death, in the near future will be held on June 10, 2013. Of Course, only Mr. Usman or another guide who knows the location of the event.
Please contact Mr. Usman and negotiate about the price.
When you use the services of Mr. Usman, please tell my greetings to him from Alexander, Bataknese from Jakarta :)

Thursday, May 16, 2013

Perjalanan ke Makassar (TN Bantimurung, Losari dan sekitarnya), Tana Toraja, dan Tanjung Bira (1)

Perjalanan wisata/travelling saya kali ini mengunjungi beberapa daerah di Sulawesi Selatan. Saya akan menceritakan perjalanan saya dari Jakarta menuju Makassar, mengunjungi Taman Nasional Bantimurung, kemudian ke Tana Toraja, kemudian kembali ke Makassar mengunjungi Pantai Losari, Benteng Fort Rotterdam, Benteng Somba Opu, dan setelah itu mengunjungi Pantai Tanjung Bira yang mempesona, kemudian kembali lagi ke Makassar.

Untuk halaman ini, saya akan menceritakan keindahan Taman Nasional Bantimurung.

Perjalanan saya dimulai dari Jakarta menuju Bandara Hasanuddin. Penerbangan memakan waktu 2 jam 20 menit ditambah perbedaan waktu 1 jam lebih lama di Makassar. Penerbangan dimulai pukul  7 WIB pagi menggunakan pesawat citilink, tiba di Makassar pukul 10.20 WITA. Saya mendapat tiket promo dengan harga 178 ribu untuk sekali penerbangan ini.

Begitu tiba di Bandara Sultan Hasanuddin, saya cukup takjub melihat keindahan Bandara ini. Bandaranya cukup besar dan megah serta indah. Menurut saya Bandara ini jauh lebih indah dibanding Bandara Soekarno Hatta khususnya Terminal 1 dan 2. Namun dari bandara menuju ke jalan besar tempat angkutan umum lalu lalang, itu cukup jauh. Mungkin ada sekitar 4 km sehingga tidak cocok jalan kaki. Saya memanfaatkan jasa ojek sepeda motor yang memasang tarif rp. 15.000.
Di bandara juga tersedia Bis Damri yang menuju pusat kota Makassar Lapangan karebosi (dekat pantai Losari). Selain itu tersedia cukup banyak taksi di bandara ini. Tapi saya perhatikan, Taksi Blue Bird belum ada di Makassar.
Bandara Sultan Hasanuddin
Setelah saya diturunkan oleh ojek, saya langsung menggunakan angkutan umum berupa minibus yang di makassar disebut Pete-Pete. dari gerbang Bandara tersebut saya menuju Pasar Maros membayar ongkos sekitar 3 ribu. Di Pasar Maros saya berganti Pete-Pete menuju bantimurung. Bilang saja sama sopirnya pingin masuk ke Taman nasional Bantimurung. Karena dari Pintu Gerbang Bantimurung ke pintu loket didalam itu ada sekitar 1-2 km. Saya membayar rp.5000.

Tiket masuk untuk wisatawan domestik di TN Bantimurung adalah rp.15.000. Ternyata di dalam TN Bantimurung ini terdapat air terjun Bantimurung, beberapa gua gua, dan juga tempat penangkaran kupu kupu. Tempat ini luas dan sejuk. Adanya aliran sungai dan air terjun, pohon pohon, dan dikelilingi pebukitan dan karst, membuat suasananya sangat teduh dan sejuk. Untuk menikmati hampir semua yang ada disini saya pikir butuh waktu 3-4 jam.

Saya tiba di pintu loket pukul 12.00 siang.
Memasuki kawasan tersebut, akan ada guidet yang menawarkan jasa untuk berkeliling atau mendampingi masuk ke gua gua. Tapi tak perlu terburu buru. Nikmati saja dulu keindahan dan keanekaragaman hayati yang ada di Taman Nasional Bantimurung ini.
 
Loket masuk TN Bantimurung dan penjual cinderamata
Saya jalan saja terus ke dalam dan langsung bertemu dengan aliran sungai dan air terjun Bantimurung. Air terjun ini airnya sangat deras. Kita bisa mandi atau bermain air di aliran sungai tersebut. Menurut info dari petugas disana, bila musim kemarau dimana akan banyak kupu kupu, banyak kupu kupu akan beterbangan di permukaan air di sungai tersebut di dekat air terjun. Sangat mengesankan.
Air Terjun Bantimurung
 Disamping aliran sungai dan air terjun ini, terdapat anak tangga dan jalan setapak. Saya jalani terus, Saya temukan papan petunjuk arah menuju Gua Batu dan Danau Kassi Kebo. Jaraknya sekitar 800 meter setelah air terjun ini. Di perjalanan menuju gua ini, kita akan banyak bertemu dengan kupu kupu yang melintas. Selain berjalan di tepian sungai, kita akan menikmati pohon pohon yang lebat dan juga melihat bukit bebatuan dari kejauhan.
Jalan setapak menuju gua batu
Sesampai di ujung dekat pintu gua, akan ada kios yang menyewakan jasa peminjaman senter dan guide untuk membimbing masuk ke dalam gua. Saya hanya menyewa senter saja seharga Rp.20.000,-. Saya tidak menyewa guide. Ternyata kondisi di dalam gua sangat gelap. Pada saat itu juga hanya saya pengunjung yang memasuki gua tersebut, tidak ada yang lain. Saya masuk saja sekaligus uji nyali. Suara air menetes dari langit langit gua dan suara kelelawar yang terkadang menjerit memberikan kesan yang sedikit menyeramkan. Tapi saya jalani saja terus. Ternyata panjangnya hanya sekitar 50 meteran. Di dalam gua ini terdapat beberapa batuan stalagtit dan stalagmit tetapi tidak terlalu banyak. 
Gua Batu

Kemudian saya pun keluar dari gua tersebut. Nah di depan gua ini ada danau Kassi Kebo sebagai sumber air yang keluar mengaliri sungai dan akhirnya airnya jatuh di air terjun Bantimurung di bawah. Namun pada saat itu, saya hanya bisa lihat danaunya dari jarak yang agak jauh karena gerbangnya sengaja dikunci. Hal ini diakibatkan airnya meluap akibat hujan beberapa hari ini yang terus turun. Bila tidak hujan, maka air nya akan berwarna hijau. Ada juga pasir di tepiannya walau tidak terlalu banyak. Karena pernah ada korban jiwa di danau dan aliran sungai ini ketika airnya meluap, hal ini menyebabkan lokasinya diberi pagar. Sehingga orang yang ingin mandi atau bermain air hanya bisa di bawah air terjun. Namun saya kurang tau bagaimana kondisinya bila di musim kemarau dimana air tidak terlalu deras. 
Danau Kassi Kebo
Setelah selesai melihat tempat tersebut, saya kembali lagi ke bawah melalui jalan setapak dan turunan tangga yang sama. Saya kembali menikmati keindahan jatuhnya air di air terjun Bantimurung.
Kemudian saya mencoba untuk menelusuri Gua Mimpi. Namun untuk masuk, kita diharuskan untuk menyewa guide. Panjang gua ini sekitar 1-2 km.
Karena saya penasaran, saya pun menuju gua ini. Ternyata kita harus jauh naik ke atas bukit dulu. Perjalanan sekitar 30 menit naik ke atas bukit menuju pintu gua mimpi sudah cukup melelahkan. Saya diikuti oleh seorang guide di belakang saya. Awalnya saya bertanya berapa harga untuk mendampingi saya berjalan di dalam guide. Dia menawarkan harga Rp.200.000,-. waow... sangat mahal. Saya kemudian menjawab, saya hanya melihat mulut gua nya saja bagaimana. Di perjalanan akan ada monyet monyet berkeliaran di atas pohon, karena lokasi ini masih seperti hutan. 
Jalan menuju Gua Mimpi
Sesampai di mulut gua mimpi, saya pun memotret pintu mulut gua. Karena saya juga penasaran ingin masuk, terjadilah tawar menawar dengan guide. Akhirnya biaya guide menjadi 50 ribu ditambah dengan saya menyewa senter dari guide tersebut sebesar rp.25.000,-. Total 75 ribu. Guide ini juga menjadi tukang foto kita di dalam gua. Dia sudah mengetahui lokasi tempat yang baik untuk berfoto.
Didalam gua ini sangat banyak stalagtit dan stalagmit yang sangat bagus. Bentuknya bermacam macam menyerupai benda benda bermacam macam. Saya sangat mengagumi keindahannya. Didalam gua ini juga tidak terlalu banyak kelelawar. Sebenarnya di dalam gua ini ada jembatan kayu, namun kondisinya sudah sangat jelek. Ternyata jembatan ini dibuat tahun 1986 ketika pembukaan Taman Nasional ini. Sekarang sudah sangat banyak kerusakan dan hampir hancur. Dibeberapa tempat akan banyak genangan air berasal dari tetesan air dari bebatuan di langit langit gua. Ada juga lokasi di mana terdapat banyak jangkrik dan ada bau yang khas yang menurut guidenya berasal dari kotoran jangkrik tersebut.
Setelah berjalan di dalam gua kurang lebih satu jam, akhirnya dari kejauhan terlihat seberkas cahaya. Artinya pintu keluar gua sudalh kelihatan. Ketika keluar, ternyata kami keluar di hutan. Dan posisi kami ada di atas bukit. Artinya harus menuruti bukit untuk kembali ke pintu masuk TN Bantimurung. Di beberapa lokasi terdapat turunan turunan yang terjal. Setelah menuruni bukit sekitar 20 menitan, ternyata kami keluar ke jalan raya di luar dari TN Bantimurung. Dengan didampingi guide saya kembali masuk dari pintu loket tanpa membayar karena keluar dari gua. Setelah itu saya membersihkan diri di air terjun Bantimurung sambil beristirahat. Nikmat sekali.
Gua Mimpi
Setelah itu saya menuju museum kupu kupu di bagian penangkaran kupu kupu. Untuk memasuki museum kupu kupu harus membayar biaya retribusi sebesar Rp.5.000,-. Museum ini tidak besar, didalamnya dipajang berbagai macam kupu kupu yang dikeraskan yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia dan juga dari negara lain. 
Museum Kupu kupu

Tempat penangkaran kupu kupu
Kemudian di dekat museum ini ada lokasi penangkaran kupu kupu. Tapi ketika masuk ke kandang kupu kupu ini, saya hanya mendapatkan beberapa kupu kupu saja. Ukuran kupu kupunya cukup besar. Kemudian saya berbicara dengan Bapak yang menjaga museum dan tempat penangkaran kupu kupu ini. Beliau berkata kupu kupu saat ini sedikit karena lagi musim hujan. Bila musim kemarau kupu kupu akan berkembang biak dan menjadi banyak. Yang saya cukup sedih mendengarnya adalah, untuk pertama kalinya sekitar awal tahun 2013, lokasi ini kebanjiran. Cukup aneh hutan mengalami kebanjiran. Bisa saja ini disebabkan penggundulan hutan di daerah hulu. Bila hal ini terjadi, kupu kupu akan pergi dari tempat ini. Padahal dulu di tahun 80an sangat banyak kupu kupu disini. Setelah berbicara panjang lebar, saya pun permisi pulang.
Di lokasi ini juga ada lokasi yang disebut Kolam Jamala. Airnya keluar dari bebatuan dari dalam lubang gua yang kecil dan airnya mengalir ke sungai.
Kolam Jamala
Akhirnya saya keluar dari lokasi ini dan singgah dulu di lokasi tempat penjualan cindera mata yang banyak berderet di dekat loket masuk. Saya membeli sebuah kaos dan tentu saja gantungan kunci kupu kupu. Sangat banyak cindera mata berupa hiasan kupu kupu disini. Nah, untuk keluar dari TN Bantimurung ini, saya harus naik pete pete. Namun karena sopirnya tidur karena ga ada sewa, sementara jarak dari loket ini ke jalan raya sekitar 1-2 km, saya nekat saja meminta tolong pegawai PNS Taman Nasional ini. hehehe... Berhubung waktu sudah jam 4 sore, ada beberapa pegawai yang naik sepeda motor, dan saya pun langsung menyetop salah satu Bapak PNS yang menaiki motor, dan meminta tolong tumpangan sampai ke jalan raya tepat di gerbang masuk awal TN Bantimurung. Dan Bapak tersebut dengan ramah memberi tumpangan kepada saya. Terima kasih Bapak... :)

Gerbang awal masuk TN Bantimurung
Sampai di Jalan raya pintu masuk TN Bantimurung, saya menyetop pete pete yang tujuannya ke Pasar Maros. Saya membayar Rp.3000,-. Karena saya ingin menuju Toraja, dari Pasar Maros saya ambil lagi pete pete menuju jalan perintis kemerdekaan tempat pool bus Bintang Prima menuju Toraja. Sebelum ke perintis kemerdekaan, pete pete ini akan kembali melewati gerbang masuk bandara Hasanuddin.

bersambung


Sunday, May 5, 2013

Cara memperpanjang STNK kendaraan bermotor

STNK kendaraan bermotor harus diperpanjang setiap 5 tahun dan sepeda motor saya sudah harus diperpanjang STNKnya. Saya pun pergi ke kantor Samsat Jakarta Timur di Jalan Ahmad Yani.
Saya mencoba mengurus sendiri dan ternyata pengurusannya tidak sulit. Hanya memakan waktu sekitar 2 jam. Itupun karena kebanyakan menunggu antrian. Masih banyak juga calo yang beredar dan menawarkan jasa disana.

Nah, hal pertama yang perlu dibawa adalah syarat syaratnya. Pertama, bawalah BPKB, STNK, dan KTP asli anda, dan satu lagi, PULPEN.
Begitu sampai di kantor samsat pukul 08.30 pagi, saya langsung ke lokasi TES FISIK. cari saja petunjuk dimana lokasi tes fisik. Karena kondisi masih sepi, hanya ada sekitar 3 motor di depan saya, tidak ada pengambilan formulir. Saya langsung parkir motor didekat petugasnya, dan petugas langsung mencari nomor rangka mesin motor saya. setelah itu digesek di kertas arsiran, dan ditempelkan ke formulir yang sudah disediakan oleh petugas cek fisik tersebut. Kemudian saya diminta uang seikhlasnya :) saya beri Rp.5.000,-.
Sepintas saya baca formulir tersebut berisikan juga kolom kolom penilaian terhadap kondisi kendaraan bermotor, seperti lampu, rem, spedometer, spion, dan lainnya. Tapi petugas hanya memberi ok semuanya dan hanya mengecek nomor rangka kendaraan. hmmm...

Selanjutnya formulir yang sudah diisi itu diberikan kesaya dan diarahkan untuk ke loket no.4, lokasinya disamping area tes fisik. Nah, sebelum saya ke loket no. 4 tersebut, saya parkirkan dulu motor saya di area parkiran. Setelah itu, saya pergi ke tempat fotokopi di area tersebut. Saya sengaja fotokopi disana saja, agar sekalian mereka merapikan berkasnya, karena mereka sudah lebih paham. Yang difotokopi adalah ktp, bpkp dan stnk saya, kemudian hasil fotokopi itu dijadikan satu berkas dengan ktp asli dan stnk asli saya, Biaya fotokopi adalah Rp. 2000,-
Setelah selesai membereskan berkas tersebut, saya pergi ke loket no. 4 dan memberikan segala berkas tersebut. Petugas menerimanya dan mengatakan silahkan duduk, nanti namanya akan dipanggil. Setelah menunggu sekitar 20 menit, akhirnya nama saya dipanggil. Berkas kembali diberikan kepada saya. Disini, gratis, tanpa pungutan :)

Setelah dari loket no.4, saya pergi ke gedung utama, untuk melakukan pembayaran pajak tahunan (Pajak Daerah atau disingkat SKPD PKB), di lantai dasar/satu. Pertama masuk ke gedung tersebut, langsung menuju meja tempat pengambilan formulir. Petugas akan memberikan formulir tersebut (gratis), dan kita harus mengisi formulir tersebut sesuai dengan data pribadi dan data kendaraan bermotor. Disinilah kegunaan PULPEN tersebut :) Di meja tempat banyak orang mengisi formulir, ada juga ditempelkan contoh formulir yang sudah diisi. Tinggal mengikuti saja. Gampang.

Setelah selesai mengisi formulir, langsung menuju loket 1, masih di lantai yang sama. Di loket 1 tersebut memberikan berkas yang tadi sudah difotokopi termasuk formulir tes fisiknya ditambah formulir yang baru kita isikan. Nanti kita akan diberikan nomor antrian. Setelah menunggu sekitar 15 menit, nomor antrian saya disebutkan di loket no.2. Saya bergegas ke loket no.2, posisinya tepat disamping loket no.1. Di loket no.2, saya diberikan dua lembar kuitansi berisi jumlah uang yang harus dibayarkan. Setelah itu langsung ke loket no.3, yang posisinya tepat disamping loket no.2.
Di loket no.3 ini adalah kasir, langsung saja berikan lembaran kuitansi yang diterima dari loket no.2 beserta jumlah uang yang harus dibayarkan. Kalau bisa uang pas saja, untuk menghindari tidak adanya uang kecil kembalian. Karena saya sudah mempersiapakan uang dari nominal terkecil sampai terbesar, jadinya saya membayar dengan uang yang sangat pas Rp. 256.000,- hehehe... (biaya ini adalah untuk pembayaran pajak tahunan ditambah dengan pajak stnk 5 tahunan). Setelah membayar dari loket 3, kuitansi tersebut akan dicap oleh mereka. Setelah itu kita harus menunggu nama kita disebutkan di loket 4. Disini yang menunggu agak lama. Saya menunggu sekitar 45 menit. Hal ini disebabkan memang sudah banyak orang yang mengantri. Lokasi loket no 4 ini, tepat disamping loket no.3.
Setelah nama kita dipanggil di loket no.4 ini, kita berikan kepada petugas bukti lembaran kuitansi yang sudah dicap tersebut, dan kita akan diberikan lembaran STNK yang baru dan lembaran Surat Ketetapan Pajak Daerah PKB yang baru beserta sampulnya, beserta selembar kuitansi bukti pembayaran tersebut... Yeah, berarti perpanjangan STNK dan pembayaran pajak sudah selesai.
Nah terkadang, khusus untuk perpanjang stnk 5 tahunan, petugas akan mengatakan untuk sementara hanya diberikan surat SKPD PKB nya, sementara STNK yang 5 tahunan belum bisa diberikan, karena berkas berkas masih dicari. Petugas akan meminta nomor handphone kita dan mengatakan akan dihubungi bila STNK nya sudah selesai, waktu dihubungi maksimal sampai 6 bulan ke depan. Tapi ga usah takut, karena di Surat SKPD PKB yang diberikan pada kita, diberikan cap yang bertuliskan "SKPD ini berlaku juga sebagai STNK", dan ditandatangani

Tinggal satu lagi, mengambil plat nomor yang baru. Gedung tempat pengambilan plat nomor kendaraan bermotor ini berada disamping lokasi tes fisik kendaraan. Untuk memastikan, tanya saja petugas yang ada di lokasi tes fisik dimana tempat pengambilan plat nomor kendaraan. Disana serahkan kuitansi bukti pembayaran atau tunjukkan stnk yang baru. Kemudian menunggu sekitar 5-10 menit, nama kita dipanggil dan diberikan plat nomor kendaraan yang baru. Gratis, tidak ada biaya tambahan :) Oh ya, cat plat nomor kendaraan ini masih belum benar benar kering sehingga harus hati hati memegangnya, lebih bagus kalau membawa plastik dari rumah.
Setelah semuanya selesai saya langsung balik ke parkiran. Ternyata tempat parkir kendaraan bermotor yang lokasinya dekat pembayaran pajak drive through tersebut gratisss. Memang ada petugas di gerbang yang memegang megang uang, tapi tidak ada paksaan untuk membayar. Tapi tetap saja saya bayar Rp.1000,- ke mbak petugas yang menjaganya.

Selesai sudah saya memperpanjang STNK 5 tahunan. Saya pikir, tak perlulah menggunakan calo bila sudah sampai di kantor samsat. Dan menurut saya pelayanan Samsat saat ini sudah lebih baik.

NB Saya mendapat link dari blog lain bahwa kita bisa mengecek jumlah biaya untuk pembayaran SKPD PKB kita melalui http://samsat-pkb.jakarta.go.id/INFO_PKB/ 
Pengecekan biaya PKB ini khusus untuk plat nomor jakarta. Tapi ini hanya biaya PKB, sementara di surat SKPD PKB dan SWDKLLJ yang kita terima ada biaya PKB dan SWDKLLJ (ga tau apa kepanjangannya).


Monday, April 29, 2013

Cara klaim surat hilang atau tidak sampai di TIKI

Saya sering menggunakan jasa TIKI (Titipan Kilat) untuk berkirim surat ataupun barang, namun kali ini saya merasakan ketidaknyamanan yang baru kali ini saya alami. Surat yang saya kirimkan ke teman saya tidak sampai di tujuan, padahal domisili kami sama sama di Jakarta. Surat tersebut berisikan voucher taksi senilai 320 ribu rupiah. Setelah menunggu seminggu dan surat tidak sampai ke teman saya, saya pun komplain ke TIKI. Awalnya saya menghubungi customer service TIKI di 021-500125. Kemudian saya diminta untuk membacakan nomor resi pengiriman yang tertera di BTTKB (Bukti Tanda Terima Kiriman Barang). Anehnya, nomor tersebut tidak terdaftar di sistem mereka. Kemudian mereka meminta untuk mengirimkan bukti BTTKB tersebut via fax. karena saya tidak punya fax, maka bukti tanda terima tersebut saya kirimkan via email ke csr@tiki-online.com
 Beberapa hari kemudian saya mendapatkan surat dari TIKI bahwa hasil dari klaim saya, saya diberikan biaya ganti rugi sebesar 10 kali biaya pengiriman. Pada saat itu saya menggunakan pengiriman regular sebesar rp.6000,- sehingga biaya ganti ruginya hanya rp. 60.000,-. Saya keberatan dan kemudian menelpon TIKI kembali menyatakan keberatan. Saya mengatakan jika ingin memberi ganti rugi, tolong ganti dengan biaya penuh sebesar rp.320.000 ditambah biaya pengiriman sebear rp. 6000,-. Petugas customer service TIKI menyarankan saya agar membuat klaim yang kedua dengan menyertakan surat pernyataan klaim TIKI dan Bukti Tanda Terima via fax atau email. setelah saya kirimkan via email dan saya telpon cs untuk menanyakan progressnya, datang surat TIKI yang kedua yang menyatakan bahwa TIKI akan mengganti rugi sebesar 15 kali biaya pengiriman atau sebesar Rp. 90.000,-. Saya sangat keberatan dengan cara ini dan kembali komplain ke TIKI untuk yang ketiga kali melalui email dengan menyertakan surat dari TIKI tersebut dan juga menelpon customer service. Beberapa hari kemudian , datanglah surat TIKI yang ketiga yang berisikan akan menggantikan  biaya kerugian sebesar 50 persen dari yang saya tuntut atau sebesar Rp.163.000,-. Saya juga ditelpon oleh pihak cs TIKI yang menyatakan akan mengganti rugi sebesar 50 persen. Namun saya tidak terima. Petugas cs TIKI mengatakan bahwa seharusnya bila nilai dari barang yang dikirimkan melebihi dari 10 kali biaya pengiriman, maka harus diasuransikan. Biaya asuransi sebesar 0,225%. Sebenarnya 0.225% dari nilai voucher saya yang bernilai 320.000,- adalah 720 rupiah. Gara gara 720 rupiah, klaimnya jadi susah begini.
Dan akhirnya saya email kembali untuk menyatakan klaim keempat saya yang menyatakan meminta ganti kerugian senilai dari barang yang hilang atau kalau tidak, tolong kembalikan barang yang saya kirimkan tersebut. Dan setelah menunggu seminggu, datanglah surat TIKI yang keempat yang berisikan bahwa TIKI akan mengganti kerugian sebesar 100% atau sebesar Rp.326.000,-. Akhirnyaa.....
Saya diinfokan agar ke kantor pusat TIKI di jalan raden saleh dengan membawa BTTKB asli, surat klaim dari TIKI dari yang pertama sampai keempat asli, dan fotokopi KTP. Bila diwakilkan harus disertakan dengan surat kuasa asli.
Sampai di kantor pusat TIKI saya langsung ke lantai dua, bertemu dengan cs nya, dan setelah menunggu setengah jam, saya diberikan uang penggantian penuh dan fotokopi surat pernyataan bermaterai yang saya tandatangani yang menyatakan bahwa permasalahan ini sudah selesai dan tidak ada penuntutan lagi. Akhirnya permasalahan ini selesai setelah prosesnya berjalan sekitar 1,5 bulan.

Pelajaran yang bisa diambil adalah jangan sekali kali membuang kertas bukti tanda terima kiriman barang bila barang belum benar benar sampai di tujuan. kertas tanda terima tersebut menjadi syarat mutlak sebagai tanda bukti bila terjadi kehilangan barang. Dan yang kedua, asuransikan saja barang barang yang bernilai harganya, toh biaya asuransinya tidak mahal, sehingga bila terjadi kehilangan, tidak repot serperti saya.

Saturday, April 27, 2013

Cara Menutup Polis Asuransi AXA Mandiri

Setelah saya merasa asuransi AXA Mandiri yang saya miliki tidak terlalu berguna, maka saya berniat untuk menutup polis saya. Walaupun saya tau bahwa uang yang sudah saya setorkan tidak akan kembali utuh karena banyak terpotong untuk biaya asuransi saya daripada biaya pengembangan investasinya, saya ingin berhenti saja. Sebenarnya pengajuan penutupan polis bisa dilakukan di Bank Mandiri mana saja, namun saya langsung ke kantor pusat AXA Mandiri di gedung AXA Tower di lantai GF (lantai dasar), di jalan Prof. Dr. Satrio, kuningan city. Atau di sebelah mall Ambassador.

Persyaratannya cukup mudah (bila tertanggungnya adalah diri sendiri):
  1.  Bawa buku polis asli
  2.  Bawa fotocopy KTP yang masih berlaku, sebenarnya hanya bawa KTP asli juga bisa, nanti mereka yang akan membantu fotocopy. 
  3. untuk lebih aman, bawa fotocopy buku tabungan dimana nanti dananya akan ditransfer ke rekening buku tabungan ini.
Disana, nanti akan mengisi formulir termasuk salah satu kolomnya adalah  nomor rekening dimana dana kita akan ditransfer. Selain itu petugas juga akan bertanya alasan mengapa menutup polis, tetapi saya kira ini hanya membutuhkan jawaban basa basi saja.
Nah, bila tertanggung adalah orang lain, misalnya anak, maka harus ditambahkan dengan fotocopy akta kelahiran si anak tersebut, plus mungkin perlu fotocopy kartu keluarga.

Setelah pengisian formulir dan pemberian berkas berkas selesai, petugas menjanjikan dananya akan masuk sekitar 14 hari kerja (kalau saya tidak salah). dan dananya masuk ke rekening saya sebelum dari batas waktu maksimal yang dijanjikan. Demikianlah hubungan saya berakhir dengan asuransi AXA Mandiri.